#RamadanChallengeDay26: Belajar Itu Tidak Pernah Selesai

from the blog www.stuckincustoms.com
Gambar dari sini

Suatu pagi, beberapa hari yang lalu, saya lamat-lamat ikut mendengar kultum bapak di musala desa sebelah. Pagi itu bapak menceritakan mulianya seseorang yang berkeinginan untuk terus belajar. Bahkan, orang yang berkeinginan belajar itu lebih ‘mulia’ daripada orang yang bisa mengajari. Bayangkan saja, pernahkah ada orang yang merasa mampu mengajari kemudian sibuk mencari murid? Atau justru yang ada adalah orang yang ingin belajar sehingga bersibuk ria berusaha mencari guru? Saya kira, yang kedualah yang lebih tepat. Saya tahu, kultum bapak pagi itu terilhami dari salah seorang sepupu jauh saya yang di siang hari nan terik sebelumnya mbelan-mbelani datang ke rumah mencari bapak, KARENA PENGEN BELAJAR NGAJI. Padahal dia sudah cukup dewasa, jadi bukan sekedar mengaji iqra’ lagi. Subhanallah…

Pagi ini saya serasa menemukan bait-bait nasihat yang sama dari lisan seorang Gus Mus.
“Kalau tidak ngerti, mencari tahu, itu lebih baik. Maka saya selalu mengatakan, mbok belajar terus, jangan berhenti belajar. Kalau membela keyakinan, ya belajar soal keyakinan Anda. Kenal enggak sama pembawa keyakinan ini? Kenal sama Rasulullah enggak? Kenal Rasulullah ya melalui ilmu. Nabi itu bersabda, selama orang itu masih belajar, orang itu pandai. Ketika orang itu berhenti belajar karena merasa pandai, mulailah dia menjadi bodoh
(sumber dari sini)
Merasa sudah pandai, merasa sudah bisa; ternyata memang menjadi gerbang awal menuju kebodohan yang sesungguhnya. Mengapa? Karena selanjutnya menjadi enggan belajar.

Mau tidak mau ingatan saya jadi kembali ke masa tiga tahun yang lalu. Ketika seseorang dengan begitu frontal mempertanyakan tentang pilar-pilar ibadah yang saya yakini. Reaksi awal saya adalah ngamuk sengamuk-ngamuknya, wkwk. Tragisnya, semakin saya ngamuk versi-ngamuk-dalam-diam itu, saya semakin merasa bahwa saya hanya tidak terima dianggap bodoh, wkwk. Saya hanya membela ego, tanpa berusaha menyadari bahwa pertanyaan-pertanyaan beliau adalah hal-hal jamak yang ingin diketahui orang. Pada satu titik, alhamdulillah saya menyerah. Saya menyerah dan sadar betul atas segala ketidaktahuan saya. Ketidaktahuan yang kemudian mendorong saya itu gila-gilaan melahap ilmu, minimal mengenai apa-apa yang beliau tanyakan tersebut. Hasilnya, amazing! Jika tidak ada refleks tubuh untuk mempertahankan diri, mungkin saya sudah sukses menonjok kepala sendiri sambil ngomel, “Wingi dolan nandi ae to nduk…nduk?!” 😀
Kadang memang, kita perlu suatu pengalaman menohok yang bisa menjadi cambuk untuk bergerak. Bagi saya, pengalaman itu bernama kesadaran bahwa sesungguhnya saya tidak tahu.

Pengalaman itu pula yang sering saya ingat setiap kali saya menjumpai sesuatu yang di luar pengetahuan saya. Sesuatu yang asing dan baru, dalam hal apapun. Kalimat penenang yang sering saya rapalkan terlebih dahulu adalah, cari tahu dululah duduk perkaranya—kalau perlu dari sumber primer­—ilmu itu tidak ada salahnya diketahui karena pengetahuan yang luas membuat kita tidak jadi orang kagetan. Sedikit menyinggung hal sensitif, ehehehe, saya cukup takjub ketika ada seorang muslimah yang bisa menerangkan konsep Trinitas dalam kajian teologi Kristiani. Kemudian lebih takjub lagi karena penjelasan ringkasnya itu disepakati teman-teman umat Kristiani sendiri dalam kolom komentar. Selanjutnya semakin takjub karena saya kok mudheng dengan penjelasan tersebut, wkwk. Suatu jenis pemahaman yang membuat saya bergumam, oh jadi begitu to alur pikirnya. Uniknya, saya sekaligus merasakan sendiri betapa tepat jika keimanan itu dikonsepkan sebagai sesuatu yang diyakini hati; diucapkan lisan; dan diwujudkan dalam perbuatan. Ternyata pemahaman konsep teologi Kristiani itu ‘hanya’ sampai level saya ucapkan pemahamannya lewat lisan saja. Tidak ada yang terasa spesial di hati, apalagi sampai ingin melakukan perbuatan. Perbedaan antara saya sebelum tahu dengan setelah tahu hanya sebatas bahwa saya sekarang bisa lebih menghargai keyakinan teman-teman umat Kristiani. Itu saja, no more 🙂

Saya sejak dulu naksir dengan kata-kata ini:

“Nothing in life is to be feared, it is only to be understood. Now is the time to understand more, so that we may fear less.” ~Marie Curie

Rasanya pas saja dengan situasi belakangan ini. Sesuatu yang tidak kita ketahui akan cenderung menimbulkan ketakutan. Sedagkan belajar sendiri secara umum dapat diartikan sebagai suatu proses dari tidak tahu menjadi tahu. Belajar tanpa henti, from craddle to the grave, adalah suatu hal yang mestinya kita rasakan menjadi kebutuhan. Semakin belajar, semakin banyak rasanya yang selama ini belum saya ketahui. Semakin pula saya merasa menjadi makhluk yang teramat kecil, dibandingkan samudera pengetahuan Allah Sang Pencipta…

Iklan

Satu pemikiran pada “#RamadanChallengeDay26: Belajar Itu Tidak Pernah Selesai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s