#RamadanChallengeDay24: Halalan Thayyiban

makanan-halal-_160303091354-745
Gambar dari sini

Akhirnya ambil topik kekinian juga, hehe. Habis kok ya pas sekali, sebelum keluar pengumuman BPPOM tentang kandungan fragmen DNA babi pada merk-merk mie instan impor ini, pas banget temen kantor yang seorang muslim nyritain betapa kesengsemnya dia dengan samyang ini 😀
Selepas kabar ini mencuat, dia meringis saja waktu saya tanya. Tapi menurutnya, tampilan samyang yang dulu ia makan berbeda dengan tampilan samyang yang ditunjukkan di berita-berita tersebut. Semoga saja yang dia makan memang yang versi halal 🙂

Di sini saya tidak hendak membahas polemik samyang yak. Lha saya juga belum pernah makan. Jadi terpikir saja untuk menuliskan beberapa pengalaman bersinggungan dengan urusan ‘keamanan’ makanan versi muslim ini.

Secara ringkas, halal berarti makanan tersebut diperbolehkan secara syariat. Sementara istilah thayyib merujuk kepada kebaikan makanan itu sendiri bagi tubuh. Jadi kalau halal apakah pasti thayyib? Belum tentu 😀
Daging kambing yang didapat lewat sembelihan yang sesuai syariat itu halal, tapi jadinya tidak thayyib jika yang memakan adalah orang dengan penyakit hipertensi akut. Demikian juga, daging ayam yang masih segar tergolong thayyib, namun menjadi tidak halal jika ayamnya dimatikan dengan cara yang tidak sesuai syariat. halal dan thayyib adalah satu kesatuan, tidak dapat ‘seenaknya’ dipisahkan.

Salah satu pengalaman menarik saya terjadi beberapa tahun yang lalu, alias cukup lama sih, haha. Saya ingat betul, waktu itu saya membuat status facebook berupa keinginan makan suatu jenis jelly namun saya batalkan karena merk tersebut belum berlabel halal. Pencerahan datang dari komentar seorang kakak kelas yang bekerja di W*ngsfood. Beliau menjelaskan bahwa makanan yang belum berlogo halal tidak selalu berarti tidak halal. Perlu dicermati juga kandungan apa yang sekira menjadikan makanan tersebut layak dicurigai ketidakhalalannya. Dalam kasus makanan berupa jelly, menurut beliau, kita harus waspada dengan zat yang bernama gelatin sebab salah satu sumber gelatin yang jamak adalah dari babi. Namun demikian, masih menurut beliau, gelatin yang beredar di Indonesia adalah jenis gelatin yang sudah terjamin halal. Jadi ada kemungkinan jelly tersebut halal namun memang belum sampai mengurus sertifikasi halal ke lembaga yang berwenang.
Sungguh-sungguh pencerahan… 😀

Pengalaman lainnya adalah ketika masih awal-awal hallyu wave, saya sudah mulai menjumpai ragam ramyun impor dari Korea di toko langganan. Saat itu tangan saya sudah gatel mengambil, namun masih mencermati bagian ingredients-nya dahulu. Ternyata oh ternyata, selain tidak ada label halal, bahkan sekedar label halal dari lembaga berwenang di luar negeri sana, ingredients-nya pun masih ditulis dengan huruf hangeul­. Gimana bacanya dong ya?! 😀
Akhirnya saya batalkan saja niat mencoba ramyun, balik lagi beli ramen gekikara buatan N*ssin yang sudah jelas berlabel halal dan bahannya tercetak dalam huruf latin, hehe.

Selain itu saya juga pernah ceriwis dengan mbak-mbak pramusaji ketika akan makan di Michigo, sebuah resto makanan Korea. Juga pake acara celingak-celinguk memastikan penjelasan kehalalan makanan di Marugame Udon sebelum bersiap memesan menu. Dan yang cukup sering, sibuk inceng-inceng bagian ingredients jika mendapat oleh-oleh makanan dari luar negeri, hehe. Tapi keribetan tersebut seru lho, kadang saya jadi belajar berbagai hal baru saat berupaya mengecek kira-kira ada bahan yang mencurigakan atau enggak. Dipikir-pikir, layak juga temen saya yang Katolik bilang kalau di matanya Islam itu ribet, hahaha.

Bagaimanapun, konsep halalan thayyiban ini sudah menjadi bagian dari agama yang saya pilih untuk dianut. Tidak ada yang sungguh-sungguh ribet sebenarnya, apalagi ditunjang dengan kemudahan akses informasi seperti sekarang ini. Bahkan saya juga menemukan seorang blogger yang terus terang bertanya kepada produsen tetang kehalalan produknya, dan dijawab! Keren sekali. Saya kira kondisi ‘dunia tanpa sekat’ seperti sekarang ini justru akan mendorong setiap orang untuk lebih tegas dan diplomatis atas apa yang dia yakini. Profesionalitas para perusahaan di luar negeri sana juga saya kira telah teruji, tidak perlu bermanis-manis tidak jelas hanya demi menggaet konsumen. Uji keberanian dengan melakukan klarifikasi langsung, jika ditanggapi baik ya Alhamdulillah, jika tidak ya tinggalkan saja produknya. Toh aturan Allah tidak untuk membuat kita kesusahan kan 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s