#RamadanChallengeDay23: Lebay, Edisi Dunia Kita

Hari Ahad itu ndilalah saya benar-benar tidak ke mana-mana karena agendanya adalah mulai membuat kue, hehe. Ketika sedang meng-grinder­ kacang tanah sangrai, saya sekalian menyalakan TV. Pas ternyata, acaranya bertajuk Dunia Kita, acara mingguan produksi VOA Indonesia. Asyiknya kemarin pas mbahas perkembangan Islam di Amerika, wa bil khusus di kawasan Pantai Timur Amerika.

voa-the-islamic-place-toko-busana-muslim-terbesar-di-pantai-timur-as-7a1ca3
The Islamic Place, Philadelphia. Gambar dari sini

Selama 30 menit, bergantian ditayangkan tentang toko perlengkapan muslim terbesar di kawasan Pantai Timur, yaitu The Islamic Place di kota Philadelphia. Saya sukses mbrambangi ketika seorang muslimah diwawancarai saat sedang berbelanja, yang mana ia kemudian berujar dengan penuh kekaguman bahwa koleksi hijabnya sangat banyak dan colorful. Duh ibu…di sini yang sederetan kompleks pertokoan njualnya semua jilbab juga ada. Selanjutnya ditayangkan tentang perjuangan komunitas muslim untuk memiliki tempat ibadah secara layak, dari Church of the Epiphany di kota Washington DC yang mengizinkan muslim untuk menyelenggarakan ibadah salat Jum’at di sana karena tidak adanya masjid; hingga perjuangan komunitas muslim di Texas dalam membeli kompleks bangunan bekas gereja untuk dijadikan masjid sementara. Dan yak, tentu saja saya jadi mbrambangi lagi. Ada pula kisah ibu Vivi Darmansyah, satu-satunya muslimah berhijab yang menjadi guru sekolah di The Valley School Seattle. Mendengar beliau menceritakan kesyukurannya atas pekerjaan tersebut karena menjadi sarana mengenalkan Islam kepada anak-anak yang mayoritasnya nonmuslim, juga sebagai upayanya untuk menumbuhkan toleransi sedini mungkin; saya dong mbrambangi lagi, hehe. Kemudian ditutup dengan sesi tayangan usaha teman-teman dari Dompet Dhuafa di Amerika sana untuk membuka tempat penitipan anak sekaligus mengajarkan Islam serta kultur keIndonesiaan, yak benar…saya mbrambangi  lagi.

Paham kan kenapa judulnya saya bilang lebay 😀

Alangkah tidak mudahnya perjuangan saudara-saudara di sana dalam menghidupkan dan memperdalam ajaran agamanya. Belum lagi membaca liputan tentang bagaimana peperangan telah mengubah suka cita tradisi menyambut Ramadan di kawasan Timur Tengah sana, sungguh rasanya harus dobel sejuta kali bersyukur ketika menjadi muslim di Indonesia.

kaligrafi-fabiayyi-irobbikuma-tukadziban-atanasarah
Gambar dari sini
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s