#RamadanChallengeDay19: Ada Apa dengan Kita?

2tnd8tb0ivbdv6ga29vgc6ou60
Gambar diambil dari sini

Pernahkah anda menjumpai peristiwa kecelakaan di jalan raya dengan begitu banyak orang berkerumun hingga lalu lintas di sekitarnya pun tersendat?

Pernahkan anda menemukan unggahan gambar-gambar yang tidak layak untuk konsumsi umum di media sosial semacam WA Grup (WAG)?

Pernahkah anda membaca tulisan yang begitu penuh keantipatian terhadap pihak yang lain seakan pihak lain itu sama sekali tidak punya nilai kebaikan?

Dan gongnya, pernahkan anda menemu sendiri bahwa akun media sosial dengan isi hujatan dan caci maki itu ternyata berupa akun tanpa identitas yang jelas?

Kalau ada satu saja yang belum pernah ditemui, rasanya anda layak bersyukur, hehe. Tapi bahkan ketika sudah pernah menemukan semuanya, saya pikir anda juga tetap harus bersyukur. Bersyukur jika merasa janggal dengan fenomena-fenomena seperti itu, kemudian dilanjutkan dengan mengambil hikmah darinya 🙂

Saya sih cukup kenyang ya nemu-nemu kejadian di atas, hehe. Alhamdulillah deh, berarti masih diberi kesempatan sama Allah untuk lebih sering belajar dari sekitar. Meskipun tidak bisa dimungkiri, rasanya senep juga kadang-kadang. Seringkali kemudian terlintas kata-kata semacam; kok bisa-bisanya sih?! Kok tega sih? Emang yang di pikirannya apa to yo?! Untuk kemudian saya juga tersipu-sipu sendiri karena bahkan dalam pikiran saja saya sudah mulai mengadili orang lain, ehehe.

Sampai saya menemukan artikel-artikel mencerahkan ini dan ini.

Nurani yang menempatkan diri di area kecil lateral frontal pole prefrontal korteks itu hanya bisa tumbuh dan berkembang jika orang mampu menghayati hidup dengan lebih sadar, bertanggung jawab dan mempunyai otonomi moral.
Orientasi hidup tidak mati terpaku pada satu pilihan dan menjadi radikal tentang tujuan akhir hidup, apalagi menebar hoax.
Tapi, justru menumbuhkan kecerdasan lateral yang secara intelektual mampu menanggapi masalah-masalah baru dengan berbagai cara arif dan sekali lagi: bertanggung jawab
~Dr Tan Shot Yen

Manusia memang telah diciptakan dengan sebaik-baik bentuk, yang tampak maupun yang tidak. Katakanlah, sistem tubuh nan sempurna itu adalah modal awal untuk berperan sesuai job desc manusia yaitu menjadi khalifah di muka bumi. Nurani adalah salah satu modal itu. Ajaibnya, nurani akan terus berkembang seiring dengan apa saja yang kita serap dari sekeliling kita. Di masa lalu, sekeliling kita adalah bermakna harafiah. Sebatas lingkungan yang secara langsung dapat kita temukan dan rasai dengan kelima panca indera. Namun seiring perkembangan teknologi, jarak menjadi pupus, dan istilah lingkungan sekeliling bermetamorfosis menjadi lingkungan yang tanpa batas.

Siapkah sebenarnya kita dengan perubahan tersebut?

Sekali lagi, Allah sudah memberi kita modal dasar. Bagaimana kita mengelolanya agar menjadi peningkat harkat martabat kita sebagai manusia, adalah kunci utamanya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s