#RamadanChallengeDay18: Ketika Sang Merah Putih Dipasang Terbalik

image252-e1440035998439
Ilustrasi bendera terbalik

Selasa pagi, saya berangkat kerja seperti biasa. Sampai di kantor juga pada jam biasanya, sekitar jam 7.45. Kantor saya ini lokasinya bersebelahan dengan suatu kantor pemerintah yang setiap harinya selalu mengibarkan bendera merah putih. Saat naik ke lantai dua, ruangan saya, saya melewati teras terbuka yang langsung berhadapan dengan kibaran bendera tersebut. Saat melintas, entah kenapa ada yang terasa aneh. Spontan saya menoleh ke arah bendera. Olala, jebulnya pagi itu benderanya terbalik. Sang Saka Merah putihnya menjadi bendera Polandia *lol*

Sejenak saya berpikir, akan membiarkan saja atau mencoba mengingatkan dengan cara memanggil seseorang dari kantor sebelah. Fyi, pada pagi hari biasanya banyak pegawai sebelah yang tampak berseliweran di depan, dan itu bisa terlihat dari teras lantai 2 kantor saya. Akhirnya saya putuskan, do something ah, jangan diam saja.

Selanjutnya saya menuju ujung teras dengan harapan akan lebih mudah terlihat dari bawah. Ada seorang perempuan yang hendak masuk ke kantor, sekilas sudah menatap saya, baru akan membuka mulut eh ibunya menunduk lagi, wkwk. Ya sudahlah. Selanjutnya tampak mas-mas mengangkat kardus, yang repot posisinya selalu membelakangi saya. Mau teriak-teriak manggil kok saya juga rada pekewuh. Tiba-tiba dari atas –lantai 3 kantor saya– ada suara keras rekan saya memanggil mas-mas kantor sebelah tadi. Beliau berteriak cukup keras untuk mengingatkan tentang bendera terbalik tersebut. Alhamdulillah responnya cukup cepat, sehingga tidak berapa lama dari ‘upacara’ penaikan bendera sudah dilakukan ‘upacara’ penurunan bendera diteruskan penaikan bendera kembali, hahaha.

Kadang, kita merasa enggan mengingatkan karena merasa itu perkara ‘sepele’ saja. Atau mungkin kita pikir ‘ah bukan urusanku juga’, atau bahkan ‘males ah, paling juga gak ditanggapi’. Pikiran-pikiran seperti itu yang terkhusus bagi diri saya sendiri, ingin saya benahi. Bertemu dengan pengendara sepeda motor yang lampu seinnya masih terus berkedip, saya pepet sedikit, klakson, lalu kasih kode bahwa lampu seinnya masih menyala. Pernah juga saya melihat ada seorang bapak yang berdiri memenuhi jalan di padatnya gang pasar Beringharjo, saya tarik napas dulu lalu mengingatkan beliau agar sedikit menyingkir, alhamdulillah langsung dilakukan. Tapi ada juga yang belum kelakon, ngingetin dedek-dedek emesh yang rambutnya menjuntai hingga keluar dari jilbab, wkwk.

The only thing necessary for the triumph of evil is for good men to do nothing
~ Edmund Burke

Saya tidak hendak mengatakan jika kejadian-kejadian yang saya sebut di atas adalah kejahatan kemudian saya menjadi orang baiknya karena mau mengingatkan ya. Saya mah apa atuh 🙂

Sekedar mengingatkan saja, utamanya bahkan bagi diri saya sendiri, bahwa silang sengkarut masalah di sekitar kita bisa jadi muncul akibat keengganan kita untuk saling mengingatkan. Ketidakpedulian kita untuk saling mengkoreksi dengan bahasa kasih sayang. Duh, kok berat sih bahasanya, wkwk. Semoga ya, usai ditempa selama Ramadan ini, selain peduli akan rasa laparnya mereka yang tak berpunya, tumbuh pula kepedulian untuk saling mengingatkan kebaikan kepada sesama. Tentunya dengan hikmah dan mauidhoh hasanah alias secara baik-baik serta sopan. Aamiin…

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s