#RamadanChallengeDay16: Kontemplasi (lagi)

Kalau wiken banyak agenda kontemplasinya ya. Maklum gak kesela kerjaan kantor, hehe.

Saya setuju dengan quote di atas.  Ndilalah sering juga mengalami bahkan sebelum saya nemu quote itu. Tidak hanya selama Ramadan, setiap kali baca Al Qur’an malah. Sharing  beberapa ayat yang saya sering merasa ketabok saat membacanya ya πŸ˜‰

Catatan: sengaja saya tidak akan menyertakan lafaz arabnya ya…

  • Al Fatihah

Menukil penjelasan ustad Nasarudin Umar, sang Imam Istiqlal; Al Qur’an adalah Kalamullah yang intinya terletak pada Ummul kitab yaitu surat Al Fatihah, dan inti berikutnya lagi adalah bacaan basmalah. Di situlah Allah menjelaskan sifat utama-Nya yaitu ar rahmaan dan ar rahiim. Allah adalah Mahapengasih dan Maha Penyayang. Islam adalah agama kasih dan agama sayang πŸ™‚

  • Al Baqarah: 286

Kadang-kadang saya sampai pada ayat ini “tanpa sadar”. Lalu di tengah membacanya baru terasa “berat”. Seperti mau tidak mau terakui juga bahwa seringkali hal yang saya hadapi terasa berat. Okelah masih bisa senyum sana-sini, ketawa-ketiwi. Lalu, noh…ngaku deh kalo sejatinya butuh ngeluh juga πŸ˜€

  • Al Imran: 159

Kalau sampai ayat satu ini saya kadang bingung, rasanya menumbuhkan optimisme sekaligus harus mengakui lagi kalau kemampuan saya tidak ada apa-apanya sehingga butuh berserah diri… Aneh tapi melegakan πŸ™‚

  • Al Ankabut: 45

Ketika membaca pernyataan akibat dari salat, saatnya menoleh kepada diri sendiri; masih kejikah? Masih munkar? Salatnya sudah ngefek belum, duh… Jadi ingat juga dengan tayangan selintas hikmah dari Gus Mus di Metro TV beberapa waktu lalu. Beliau menyebutkan pentingnya berdzikir, dzikir lisan plus memahami makna ucap lisannya itu, kemudian menegaskan bahwa dzikir yang paling akbar adalah salat. 

  • Al A’raf: 23

Apa coba rasanya ketika jadi satu-satunya manusia di bumi, yang sekaligus kehilangan satu-satunya teman karena suatu kesalahan?! Kebayang betapa galaunya nabi Adam saat itu ya… Njuk malu, lah ini jane nggak kehilangan apa-apa juga dan masih punya (nyaris) segalanya; lha kok masih berani-beraninya betah bergalau ria?!

  • An Naml: 19

Kurang oke apa lagi coba, sudah raja kaya raya, nabi pula. Kemampuannya bahkan mencakup bisa memahami bahasa segala binatang. Yep, nabi Sulaiman orangnya. Sak atase kemampuan seperti itu, lafaz doa syukurnya teramat indah. Sepenuhnya mengakui bahwa segalanya adalah karunia Illahi πŸ™‚

Masih banyak pastinya yang bisa digali dari Al Qur’an. Semoga kita senantiasa diberi kekuatan dan kemampuan membaca, memaknai, serta mengamalkannya. Aamiin…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s