Menikmati Latar Blasteran

Stasiun Rogojampi, stasiun terdekat dari rumah simbah di kecamatan Muncar. Dokpri.

Saya sering bercanda menyebut diri sebagai anak blasteran. Blasteran Jateng-Jatim, hehe. Sejak dulu rasanya keren bisa punya tujuan pulkam sejauh Banyuwangi ini. Dan alhamdulillah rasa keren ini bertambah saja ketika saya beranjak tua. Keren, bahwa saya mewarisi ‘kegilaan’ kultur dari kedua wilayah tersebut. Kultur Jawa Timur yang terang-terangan dalam mengungkapkan pikiran, sekaligus kultur Jawa Tengah yang diajarkan kesantunan memperlakukan orang lain. Meskipun kadang saya juga jadi merasa aneh, dianggap orang galak di daerah barat tapi masih dianggap halus ketika pulang ke timur, huehehe…
Bahkan saya masih ingat betul, saat kecil dulu pernah menangis ketika mendengarkan suatu percakapan biasa dari tetangga-tetangga di Banyuwangi. Bagi telinga saat itu, percakapan biasa yang dilakukan dengan keras dan bersahutan seperti itu jadi terlihat seperti orang yang sedang bertengkar, wkwk. Sebaliknya ketika saya sudah semakin besar, justru sering “muak” rasanya dengan orang yang enggan blak-blakan namun dengan entengnya menusuk rekan dari belakang. #bahasasangarkeluar

Jika mesti berhitung persentase, mungkin porsi Jawa Timuran saya yang lebih besar. 55-45 lah 😁
Saat masih kecil rasanya saya lebih baperan, haha. Lebih halus dan perasa seperti ibuk yang asli Jawa Tengah. Namun ketika sudah besar ternyata negara api mulai menyerang, saya jadi lebih praktis dan take-it-or-leave-it ala-ala bapak yang asli Jawa Timur. Semacam jadi punya kepribadian ganda 😉

Lebih jauh lagi, saya menjadi semakin bersyukur menyadari perbedaan suku asal yang membentuk kepribadian ini. Menjadi bertambah banyak juga deretan perbedaan lingkungan yang saya srawungi. Semakin banyak perbedaan, secara umum akan semakin panjang juga rentang toleransi yang terbangun. Dilandasi perbedaan suku yang membangun tipe dasar diri saya, dilanjutkan bergaul bertahun-tahun dengan teman sekelas yang beragam agamanya, hingga merasakan persinggungan dengan rekan-rekan kerja di beberapa pulau selain Jawa; telah khatam saya rasakan.
Efeknya ya begini ini, jadi bisa switching kepribadian, wkwk. Bukan ding, alhamdulillah jadi lebih nyaman beradaptasi saja. Menjadi fleksibel 😊

Dan pada jarak kurang lebih 532 km jauhnya dari rumah tinggal ini saya menjadi semakin menyadari tentang pentingnya melangkah pergi. Tidak selalu pergi dalam wujud jarak, kadang hanya sebatas bergabung dengan lingkungan yang latarnya berbeda. Semakin banyak warna yang pernah kita jumpai, semakin banyak rona yang mampu kita kenali. Pun saya alhamdulillah tidak merasa takut akan kehilangan jati diri, sebab ada satu didikan terbesar yang telah ditanamkan orang tua di dada saya. Didikan jati diri sebagai seorang muslimah. InsyaAllah 😉

Iklan

3 pemikiran pada “Menikmati Latar Blasteran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s