Pemahaman Terbaik Diawali dari Merasakan

Masih segar dalam ingatan saya ketika ada seorang teman, katakanlah namanya Hasan (lhah… :D); selepas saya memposting tulisan tentang pernikahan beberapa tahun yang lalu, komentar spontannya adalah “Iya po, Nis…” sambil tertawa-tawa tidak jelas. Saat itu sejujurnya saya rada dongkol. Walaupun belum menikah, emangnya gak boleh apa nulis soal nikah?! * Piss ya bapake Adzkia, haha.*

Saya tidak merasa “bersalah” menuliskan tema yang out of reach. Bagi saya, selama sudut pandangnya tepat, ya oke-oke saja kan. Namun paling tidak dua kejadian ini membuat saya menyadari teguran halus teman saya tersebut…

Pertama, dalam rangkaian liburan Maulid Nabi tahun kemarin yang saya habiskan di Jakarta bersama keluarga Mamas. Seperti biasa, ketika ada si Bulek, maka ia akan jadi asisten pribadinya ponakan sulung, Ita. Dari mbangunin, minta susu, sampai segala urusan di kamar mandi (termasuk urusan pup, seru sekali, hahaha).

Malam itu saat bobok di sebelah saya, si Ita batuk-batuk. Awalnya pelan dan jarang-jarang, tapi semakin lama semakin sering dan keras. Anehnya saya yang biasanya nyaman damai sejahtera alias bisa tidur super pulas, jadi sebentar-sebentar bangun ketika Ita batuk-batuk. Bahkan bisa dibilang saya hampir tidak tidur malam itu, surprising eh. Hingga akhirnya jam setengah 2 dini hari saya memaksanya bangun untuk minum OBH. Alhamdulillah setelah itu boboknya pulas sampai pagi, tinggal saya yang salat subuh sambil nyut-nyutan, wkwk.

Kedua, yang ini topiknya agak lebay, haha. Saya dan bapak sore itu sedang membicarakan heboh hoax­ lambang palu arit di uang resmi terbitan Bank Indonesia (BI). Pada dasarnya saya dan bapak sependapat bahwa hal tersebut hanya isu receh yang terlalu dipaksakan, plus dikipasi agar baranya nyrempet ke mana-mana. Perbincangan menjadi menarik ketika sampai persoalan komunisme sosialisme. Dengan agak berapi-api saya mengatakan bahwa ketakutan terhadap ideologi lama adalah hal yang tidak perlu. Ideologi, menurut saya, dipengaruhi pula oleh kebutuhan zaman. Ideologi yang tidak lagi selaras dengan kebutuhan zaman, tentu akan tergilas dan tidak perlu ditakuti berlebihan. Bapak diam-diam saja mendengarkan khotbah saya, wkwk. Dan sebagaimana biasanya bapak, diamnya atas sesuatu bisa diartikan tidak ada hal krusial yang perlu dikomentari dari hal tersebut.

Bagaimana saya memaknai kedua hal itu?!

Pada kejadian pertama, merasakan kepala senut-senut karena tidak kurang tidur memang bukan hal baru. Tapi ketika penyebabnya adalah seorang anak kecil yang tampak sakit di dekat saya? Ini baru pertama kali. Saya jadi teringat, sewaktu kecil pun saya langganan sakit. Kadang saya hanya senyum-senyum ketika ibuk bercerita segala kehebohan saat merawat saya saat kecil, tapi setelah kejadian itu saya menjadi mendengarkannya secara berbeda. Saya tidak akan pernah benar-benar mengerti bagaimana kepanikan dan kekhawatiran orang tua terhadap anaknya yang sedang sakit, sebelum saya mencobainya sendiri.

Pun dengan kejadian yang kedua, setelah pembicaraan tersebut justru saya terlintas dengan surat Luqman dalam Al Qur’an. Surat yang menjadi rujukan utama Islamic Parenting. Adalah penting bagi orang tua untuk menanamkan ideologi yang benar kepada anak-anaknya, bahkan dilanjutkan dengan berulang memastikan sekuat apa ideologi itu telah tertanam pada sang Anak. Saya kemudian paham, bisa jadi, kalangan orang tua yang resah dengan paham-paham macam komunisme dan sosialisme tersebut sekedar mengkhawatirkan keturunan mereka sendiri di masa depan. Masihkah ideologi yang benar tertanam dalam sanubari mereka? Sanggupkah mereka bertahan di tengah kerasnya gempuran berbagai pemikiran di masa depan? Itulah, sudut pandang orang tua yang sebelumnya seperti terlalu sulit saya pahami.. Menganggap mereka paranoid dengan pemikiran-pemikiran tersebut, hemat saya, justru menunjukkan dangkalnya empati kaum muda. Selow saja, setiap pendapat layak dihormati, apalagi pendapat dari yang lebih tua.

Pemahaman terbaik, dimulai dari merasakan. Langkah awalnya tentulah empati, bukan sekedar simpati. Dan membangun empati akan semakin utuh jika pengalamannya telah dicecap sendiri, meskipun masih dalam bentuk ala-ala, hehe.

Terima kasih teman, saya jadi belajar kembali 🙂

Iklan

2 pemikiran pada “Pemahaman Terbaik Diawali dari Merasakan

  1. Kalo ada yang bilang, kamu sih ga pernah ngalamin jadi ga tau rasanya ada benernya juga ya. Jadi sekarang lebih ati2 kalo mau ngomentarin sesuatu. Eh ini kesimpulanku melenceng dari maksud tulisan ini ga? Hihi

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s