Candi Sukuh: Perjalanan Meletakkan Keangkuhan

img_20161225_121729.jpg

Sudah cukup lama saya naksir candi ini. Ngaku deh, keantikan reliefnyalah yang menggoda saya, haha. Namun letaknya yang cukup jauh, pun medannya daerah Karanganyar yang terasa asing membuat saya berkali-kali mengurungkan niat tersebut. Hingga akhirnya kegalauan mengisi libur natal membulatkan tekad saya untuk mbolang ke sana. Sendiri alias all by myself.

Sebagian diri saya agak ragu juga dengan rencana sendirian ini. Sempat berpikir untuk sampai ke candinya motoran, tapi membaca ulasan betapa menanjak trek menuju candi ini kemudian saya ngeper sendiri 😀
Mau mengajak teman yang kemarin jadi tandem ke Malang kok juga ragu. Wisata ke candi, candi antah-berantah pula, saya kok kurang ‘tega’ mengajak dia, hehe.
Apalagi ngajak yang-pengen-diajak-tapi-belum-boleh itu *LOL*

Ya sudah, saya lalu memantapkan hati buat jalan-jalan sendiri dan mengalahkan keangkuhan dengan cara menggunakan kendaraan umum pada separuh perjalanan kali itu. Jadi rutenya adalah begini:
Naik motor dari rumah – Terminal Karangpandan, lanjut…
Naik angkudes dari Terminal Karangpandan – Nglorog alias kakinya candi Sukuh, hehe. Lanjut…
Naik ojek dari Nglorog – candi Sukuh.
Habisnya pun ekonomis saja saudara-saudara, angkudes 8rb PP + ojek 10rb PP, plus bensin 20rb yang bisa saya gunakan hingga 2 hari kerja kemudian.

Tentang candinya, oke lah ya, hehe. Inilah kompilasi foto saya kemarin:

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Saya agak kurang meriset sejarahnya kali itu. Sayang banget kelewat. Tapi dari hasil nguping bapak fotografer candi, saya simpulkan candi ini punya kaitan erat dengan siklus kelahiran manusia (kehidupan) yang pada kelanjutannya tidak dapat dilepaskan dari hal-hal berbau erotisme. Sekilas membaca juga masih terdapat perbedaan pendapat tentang waktu pembangunan candi. Satu pihak menganggap candi ini dibangun pada masa akhir Majapahit ketika unsur Hindu mulai tergerus masuknya Islam sehingga desain candinya seakan kembali ke zaman pra-Hindu. Sedangkan pihak satunya justru beranggapan candi ini dibangun pada awal masa Hindu ketika pengaruhnya belum begitu besar di wilayah Majapahit.

Oh iya, saya juga teringat sekilas pada percakapan dengan mantan rekan kerja yang juga seorang lulusan arkeologi (atau sejarah ya, hiks lupa…). Ketika perjalanan dinas kami melintasi naik turunnya jalur Tawangmangu dan diskusi tiba-tiba mengarah pada candi saru ini (hahaha), beliau menyinggung bahwa susunan batu pada candi di tingkat ketiga masih dipertanyakan. Menurut beliau, ada kalangan yang berpendapat bentukan mirip bangunan Suku Maya tersebut merupakan rekaan akhir saja. Saya mencoba googling untuk menemukan tulisan mengenai hal tersebut, namun sayang belum ketemu. Secara visual, saya cuma melihat bahwa batuan penyusun candi di tingkat ketiga bentuknya cukup kasar dari bagian dasar hingga mendekati bagian puncak. Berbeda dengan susunan batuan pada candi yang lain, jenis batuannya serupa, sama-sama halus.

img_20161225_111959.jpg
Batuan di bagian bawah kasar, bagian atas lebih halus.

Polemik selalu menarik disimak, bagi saya, hehe. Bagaimanapun, rasanya tidak rugi melihat candi ini dan merasakan langsung keteduhan di sekitarnya. Rasanya lebih baik lagi jika memanfaatkan jasa pemandu wisata ya, jadi lebih tuntas pengalamannya 🙂

Kelahiran kembali. Mungkin hal itu juga yang saya rasakan dalam perjalanan kali itu. Kelahiran diri saya yang ‘cukup’ baru. Yang tidak lagi akan ngoyo meraih keinginan dan mulai belajar mengukur kemampuan. Mungkin tampak sepele di mata orang lain. Namun bagi saya, perjalanan itu adalah salah satu tonggak menuju tahun yang baru dengan kondisi jiwa yang baru.

Keangkuhan manusia tidak ada batasnya. Hanya ketika kepala dengan ikhlas ditundukkan, dan kaki serta tangan menyadari batasan; bibit keangkuhan itu akan mampu dijinakkan 😉

Well done, Sukuh.

Iklan

5 pemikiran pada “Candi Sukuh: Perjalanan Meletakkan Keangkuhan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s