Balada Uang Lusuh

Belakangan ini saya sedang dipusingkan dengan perkara lembaran uang. Alkisah dari dagang kecil-kecilan saya di kantor, saya sering menerima lembaran uang dalam kondisi yang cukup menyedihkan, hehe. Seperti ini misalnya:

img_20161220_102025.jpg
Beberapa uang lusuh saya

Pembaca nan budiman, ada yang bernasib seperti saya?! 😀

Biasanya uang macam ini saya “kembalikan” lagi ke toko dengan cara digunakan untuk kulakan. Namun kemudian dapat info dari Ibuk bahwa toko tempat saya biasanya kulakan juga mulai menolak uang dalam kondisi seperti gambar tersebut.

Karena penasaran, minggu berikutnya saya bertanya ke mbak kasir dari toko yang satu grup dengan toko yang menolak uang lusuh tersebut.
Saya : Mbak, kalau bayar itu selama uangnya masih ada nomor serinya mestinya bisa kan? Walaupun uangnya kayak gini? *menunjukkan lembaran uang lusuh”
Kasir : Sekarang nggak bisa mbak…
Saya : Lho, dulu kata mbaknya bisa…asal masih ada nomor serinya.
Kasir : Sekarang nggak bisa lagi mbak, soalnya nanti pembeli juga nggak mau kalau dikasih kembalian dengan uang kayak gitu.
Saya : Oh… *maklum, tapi masih gak begitu ikhlas, wkwk*
Setelah itu saya masih berpikir, harusnya tidak masalah untuk toko sebesar toko tersebut. soalnya, kan mereka bisa saja menukar uangnya ke bank. Masak sih bank nggak mau nerima uang kayak gitu…

Untuk menguji dugaan itu *halah*, saya bertanya via WA kepada teman kantor beda unit yang juga jualan seperti saya.
Saya : Mbak, kalau di situ sering dapet uang kayak gitu gak to? *insert pic seperti di atas*
Temen : Iya mbak, kadang malah lebih parah…
Saya : Haha, parah gimana mbak?
Temen : Sampe ada uang receh yang nominalnya aja udah gak keliatan…
Saya : *insert emoticon ngekek sampe nangis2*
Lha terus gimana mbak? Uangnya diapain?
Temen: Ini masih ada sik tak simpen. Sebagian ada yang dimasukin ke bank, minta tolong mbak X, tapi kadang sama bank juga gak diterima…
Saya : *duh, ternyata bank gak selalu bisa nerima ya*
Sebagai konfirmasi, saya juga chat dengan mbak X via WA, juga dengan menunjukkan gambar uang tersebut. mbak X mengonfirmasi bahwa memang tidak semua uang lusuh tersebut diterima oleh bank. Ada kalanya dibalikin lagi, hiks.

Saya kemudian juga googling untuk mencari aturan yang terkait dengan kondisi tersebut. Ketemulah dengan penjelasan dari Bank Indonesia di sini dan di sini. Ringkasnya, uang seperti yang saya terima tersebut dapat dikategorikan sebagai uang tidak layak edar, bahkan sebagian uang yang saya miliki sudah bisa dikatakan sebagai uang rusak, dobel hiks.

Sejauh ini, solusi yang saya pikirkan ada tiga.
Pertama, sesuai saran BI, kumpulkan uangnya lalu tukarkan ke BI atau ke Kantor Kas Keliling BI. Kelemahannya, mau sampai kapan dikumpulin sementara saya kulakan tiap minggu, hiks. Belum lagi BI Jogja cukup jauh, nunggu Kas Keliling lebih entahlah lagi.
Kedua, sebisa mungkin ditabungkan. Kelemahannya, (1) sekarang saya jarang nabung karena gaji sudah langsung masuk ke rekening utama. Narik mah sering, nabung?! Err… 😀 (2) ada kemungkinan bank selain BI tidak menerima uang dalam kondisi yang tidak sesuai syarat mereka.
Ketiga, dan paling sadis, adalah kasih pengumuman ke pembeli bahwa saya tidak lagi menerima pembayaran dengan uang lusuh apalagi rusak tersebut.

Alhamdulillah, meskipun belum sampai ada solusi paten yang saya ambil, kemarin saya kembali kulakan dan mbak kasirnya sengaja saya pilih yang sudah cukup kenal saya. Eh ternyata uang tersebut masih diterima. Sepertinya ini akan menjadi opsi_______________________________
Keempat, saat kulakan, pastikan bertransaksi pembayaran dengan kasir yang sudah dikenal, hehehe.

Sekarang statusnya jadi wait n see ya. Semoga ke depan jumlah uang rusak maupun tidak layak edar yang saya terima jadi berkurang jadi tidak perlu galau dalam membelanjakannya lagi. Semoga juga, ke depannya makin tumbuh kesadaran buat bersikap “sopan” pada uang. Jangan mentang-mentang dengan benda mati kemudian bersikap seenaknya lalu asal melipat atau bahkan menulisinya.

Orang baik hati, cinta juga sama yang rapi-rapi 😀

Iklan

4 pemikiran pada “Balada Uang Lusuh

  1. Aku prinsipnya kalo ketemu uang lusuh, lusuh plus ditambal, digabungin pake selotip berhenti di aku. Karena males ke BI akhirnya tak biarkan dan pas pindahan kemarin malah berakhir di tempat sampah. Lumayan sih, 30ribuan. Bisa buat naik angkott

    Suka

    1. Wuih, banyak juga jadinya ya… Alhamdulillah ini rada terbantu kalo toko tempat kulakan mau nerima. Itupun biasanya aku sisihin duitnya yang agak parah, terus tanya dulu, mbak kalo pake yang kayak gini mau gak?
      Kalo mau ya kasih, kalo enggak pernah juga tak kasih ke penjual pisang langganan di pasar. Katanya yang jelek-jelek gitu masih bisa buat bayar retribusi pasar, wkwk

      Suka

      1. Aku pernah tanya Lany waktu kantor dia masih di BI, katanya bawa aja. Aku pikir walah ngigling sampe BI nuker thok. Ya jadilah seperti yang aku bilang. Wah baik ya pedagang pasarnya. Ayo ke pasar aja.

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s