Menjadi Nahkoda Othok-othok

​Judulnya seru ya, haha

Nanti deh saya ceritakan di akhir tulisan. Kali ini mungkin akan menjadi semacam curhatan random tentang beragam hal yang terjadi belakangan dalam hidup saya.

Belakangan saya merasa hidup saya masuk ke autopilot mode, hiks. Banyak hal terjadi di luar perkiraan. Banyak hal juga yang menuntun saya untuk menghela napas, mengambil jeda sejenak sebelum kembali mengungkapkan kata. Dalam simpulannya, banyak hal yang belakangan ini terasa melelahkan. Mudah sekali saya merayu-rayu diri untuk mengubah lelah menjadi Lillah, tapi sungguh pada praktiknya saya masih tergagap-gagap mengeja nasib.

Duh Allah, saya ternyata masih harus banyak belajar meneduhkan hati saya sendiri dulu…

Dan suatu hari saya jalan-jalan ke akun instagram ini *bayar om, dipromosiin nih 😂* kemudian satu gambar menarik perhatian saya. Foto kapal othok-othok, haha

Seketika ingatan saya melayang ke masa kecil. Berjongkok berdua dengan mamas menghadap bak hitam berisi air, di permukaannya kapal othok-othok hasil merengek di pasar malam berputar-putar dengan heboh. Kami tertawa, bersela dengan rebutan dan perdebatan kecil tidak jelas. Menyenangkan sekali.

Sebuah kapal sederhana yang kemudian juga membawa saya pada gambaran-gambaran masa kini dan masa depan. Biasanya orang menyebutkan perjalanan dengan bahtera mengarungi lautan sebagai simbolisme pernikahan. Terus terang kadang saya jadi merasa absurd. Jika demikian, apa artinya saya masih terjebak di pelabuhan? Menunggu kapal? Menunggu nahkoda? Menunggu arah angin atau menunggu perbaikan mesin?

Begitu?!

Sampai di situ biasanya saya terkikik sendirian 😀

Yang saya tahu, sendirian pun, saya tetap harus bergerak. Entah menegang layar atau sekedar memakai mesin tempel. Atau bahkan, cukup seperti kapal othok-othok itu. Tidak perlu bertenaga luar biasa, tidak perlu dinahkodai berdua, pun karena memang belum lagi ditugaskan untuk mengarungi samudera.

Jatahnya kapal othok-othok sekedar berputar di bak cucian, haha

Tak mengapa juga kan, ada saatnya nanti saya akan mendampingi nahkoda. Menjadi seorang mualim. Mengganti othok-othok saya dengan sebuah bahtera besar. InsyaAllah 😄

Di awal bulan ini pula, usia saya menjelang berganti kepala. Merasa tua? Secara fisik iya, hehe. Namun yang paling indah di atas semuanya adalah alhamdulillah saya semakin merasa ‘kaya’. Alhamdulillah semakin merasa dimudahkan dalam menemukan syukur, bahkan termasuk urusan ‘kendaraan’ yang masih sebatas othok-othok itu, hehe. But really, i know that i have sooo many things that others haven’t any…

Kemudian jika saya mesti menyebutkan harapan, entah kenapa justru rasanya sulit membuatnya spesifik seperti dulu. Mungkin ada yang berpandangan sebaliknya ya, harusnya kita menyebut ingin dengan spesifik, tapi bagi saya malah justru berat…

Dua hal saja yang jadi harapan terbesar saya, kelapangan hati untuk bersyukur serta kebijaksanaan dalam bersabar.

Besok mulai memasuki bulan baru. Sederet tugas sudah menanti.

Bismillah… 😊

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s