Some Kind of Integrity

​Sore itu hujan turun tidak seberapa deras, namun jalanan telah terlanjur melicin beserta banyak genangan yang menuntut kewaspadaan ekstra. Sebuah motor supra merah meluncur dengan kecepatan sedang, bahkan lajunya kemudian diperlambat ketika hendak melintasi genangan yang cukup lebar, tapi tetiba ada motor lain yang melintas kencang di sebelah kanannya. Menyapa lewat cipratan air kotor setinggi dada.

Sekian dan terima sumbangan sabar 😀

Singkat cerita, sayalah yang naik motor supra itu. Yayyy. Sesampainya di rumah saya bercerita tentang peristiwa itu pada bapak. Saya katakan, tujuan saya memperlambat motor ketika melintasi genangan adalah agar jika ada kendaraan lain yang melintas di saat sama maka tidak akan timbul cipratan air kotor yang tinggi. Sayang justru kendaraan lain yang melintas di sebelah saya lah yang memacu motornya kencang-kencang di genangan tersebut, persis ketika saya sedang sampai bagian tengah genangan.

Nggonduk? Banget. Tapi alhamdulillah cuma sebentar.

Yang menjadi unek-unek saya saat itu, tidak terpikirkah jika kencangnya laju kendaraan akan menimbulkan cipratan tinggi yang sangat mungkin akan mengotori kendaraan lain yang berjalan lebih lambat di dekatnya? Akan sangat mungkin jawabannya adalah ‘entahlah’, hahaha. Sungguh seringkali saya merasa tidak mengerti, mengapa terkadang ada orang yang bisa melakukan sesuatu yang punya kemungkinan dampak merugikan dengan tenang-tenang saja? Mengapa terkadang ada orang yang melakukan tindakan seakan tanpa memikirkan efeknya bagi orang lain di sekitar? Karena tidak terpikir atau memang tidak mau memikirkan? Wallahu a’lam

Pastinya yang bisa saya korek hanyalah alasan saya sendiri dalam berbuat sesuatu. Ketika saya berusaha mengambil pilihan yang baik, semacam mengurangi laju kendaraan saat melewati genangan air kotor, apa sesungguhnya alasan saya?!

Agar orang lain juga memelankan laju kendaraannya?

Agar perilaku berkendara saya tampak sopan?

Atau sekedar karena saya yakin tindakan saya adalah tindakan yang benar?

Dan sungguh saya berharap, alasan sejatinya adalah yang terakhir. Bukan demi pandangan orang lain. Bukan demi balasan kebaikan yang sama. Cukuplah karena saya yakin itu adalah tindakan yang benar. Meskipun tindakan yang saya lakukan itu tentu saja tidak lantas membuat saya pasti menjadi lebih baik daripada orang yang tidak melakukannya.

I know 😉

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s