Untuk Sahabat

graphic1

Ada sebilah lorong panjang saat kita berusaha beradu lutut
Jauh namun dekat
Lalu sayup kata-katamu meleleh
“Belum bisa, masih terlampau sulit,
bahkan sejak enam tahun yang lalu…”

Untuk sesaat jemariku terpaku
Aku sungguh tahu rasanya, sekaligus sungguh tidak tahu hendak berkata apa

Empat tahun delapan bulan yang lalu,
itulah titik ketika kusadari bahkan duniaku tak punya warna abu
Segalanya hanya hitam dan putih
Hingga pada satu titik,
lewat kehendak-Nya yang begitu mengherankan
Aku melihat kilauan pelangi
Indahkah di mataku saat itu?
Well, sejujurnya tidak
Aku hanya keheranan…

Empat tahun delapan bulan yang lalu,
perlahan keheranan itu berubah menjadi keraguan
lalu keraguan berubah lagi menjadi ketakutan
hingga kemudian terburai menjadi ribuan pertanyaan
yang sampai detik inipun masih kukais-kais jawabannya

Masih lama kucerna kembali kata-kata yang akan kutuju padamu
Namun akhirnya aku menyerah
Ada kalanya memang Tuhan membuat kita tidak tahu
Lalu menyisipkan jawaban lewat lamatnya jalan sang waktu

Terngiang kembali satu tanyamu sebelum itu
“Masihkah kau ingat rasanya jatuh cinta?”
Kala itu aku percaya jawabannya adalah iya
Namun dalam manguku kini, aku ingin mengubah kata
“Dear, sejujurnya aku tak ingat lagi rasanya jatuh cinta,
yang kuingat hanyalah pada satu titik yang terasa abadi,
aku memutuskan untuk belajar mencintai kembali.”

Lalu lorong panjang di antara kita waktu itu terasa sunyi
Bukan karena sirnanya kata
Namun jauh di lubuk hatiku, aku merasa kau hanya ingin segera lupa.

Jogja, 14092016

Iklan

2 pemikiran pada “Untuk Sahabat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s