Refleksi: Di Mana Ramadanmu? (2)

Refleksi Tiga.

Tepat di awal Juli, kantor saya mengadakan acara buka bersama di kantor Klaten. Meskipun satu kota dengan rumah, namun jika saya perhitungkan sepertinya masih akan susah untuk ‘mengejar’ tarawih berjamaah di masjid dekat rumah setelah acara tersebut. Tiba-tiba saya ingat bahwa tidak seberapa jauh dari kantor ada masjid baru. Namanya masjid Al Aqsho. Lokasinya ada di bekas terminal kota Klaten. Kesempatan nih, sekalian ‘nyobain’ masjid baru yang tampilannya megah sekali, hehe.

masjid-agung-klaten_jfgbjd_20151227_185416

sumber dari sini

masjid agung al aqsha klaten

sumber dari sini

Seusai acara bukber, saya bergegas menuju masjid. Hanya sekitar 5 menit kemudian, alhamdulillah saya sudah sampai di tempat tujuan dan masih mendapatkan tempat yang strategis a.k.a bisa duduk di bagian berkarpet tebal 😀

Jamaah yang hadir kali itu cukup banyak juga. Meskipun tidak sampai penuh tetapi ada lah kalau separuh masjid ini terisi. Sembari menunggu masuk waktu salat Isya, ada berbagai macam kegiatan yang dilakukan jamaah. Ada yang mengaji, ada yang mengobrol, ada pula yang tampak diam-diam saja saja.

Sejenak kemudian adzan isya’ berkumandang lalu kami salat isya berjamaah dilanjutkan ceramah dari seorang ustad (huhuhuhu, udah lupa tentang apa…padahal menarik waktu itu). Setelah ceramah, salat tarawih pun dimulai. Sesuai informasi awal yang saya dapatkan tentang masjid ini, salat tarawih dilaksanakan mengakomodasi dua jumlah rakaat (8 dan 20 rakaat) serta untuk setiap harinya dibaca minimal satu juz sehingga selama Ramadan diharapkan sekalian mengkhatamkan Al Qur’an. Lumayan euy, indah sekali berdiri anteng ketika imam membaca ayat-ayat yang bersambungan sedemikian panjang, hehe. Sampai rakaat ke-8 imamnya berganti untuk mengimami salat witir (bagi yang tarawih 8 rakaat). Saya duduk sebentar. Seusai witir, sebagian besar jamaah bubar, hehehe. Karena saya ikut tarawih yang 20 rakaat, saya kemudian berdiri lagi dan melanjutkan tarawih.

Mungkin karena masjid jadi relatif lebih sepi; mungkin karena bacaan imam kok terasa semakin panjang *hehe…*; atau mungkin sayanya aja yang belakangan ini sedang gampang mellow, rakaat ke-9 dan seterusnya menjadi terasa berbeda. Sekalian saya mengaku dosa aja deh 😀 pikiran saya sempat kemana-mana saat itu. Utamanya pada saat-saat saya merasa kurang nyaman dengan tarawih di masjid yang lain, karena berbagai sebab. Daaannnn lagi-lagi mata saya menjadi sembab. Iya, ngacung saya. Saya nangis. Waktu salat.

Pada malam itu. Di masjid dengan ornamen yang begitu megah dan mewah. Dengan alunan merdu suara imam. Jumlah rakaat yang banyak. Bacaan yang panjang dan bukan tarawih aerobik (istilah saya untuk tarawih kilat :p). Saya seperti diajak merenungkan kembali, di mana Ramadan saya?

Apakah saya baru akan khusyuk ketika salat tarawih di masjid megah?

Apakah saya baru akan khusyuk ketika suara imamnya merdu?

Apakah saya baru akan khusyuk ketika tidak ada anak kecil berlarian sampai menginjak-injak sajadah di depan saya?

Tiba-tiba saya jadi malu. Malu sekali. Entah bagaimana menggambarkannya.

Seharusnya Ramadan itu pusatnya di dalam hati. Hati saya sendiri. Sebagaimana kedamaian sejati yang lahirnya dari hati.

Ya muqollibal qulub, tsabbit qalbi ‘ala diinik…

 

Dan ternyata Ramadan ini, tentang segalanya… 🙂

Iklan

Satu pemikiran pada “Refleksi: Di Mana Ramadanmu? (2)

  1. Waduh, jangan2 gitu ya aku juga. Banyak alasan, imamnya bacaannya ga enak, jamaah lain berisik, karpetnya ini itu, padahal dari aku sendiri. Terima kasih sudah mengingatkan dear Nisa.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s