Refleksi: Di Mana Ramadanmu? (1)

Membicarakan soal waktu bagi saya rasanya semakin terasa sulit. Waktu tidak lagi menjadi suatu entitas yang bisa saya kejar dengan kata-kata. Bahasa gampangnya sih saya ini sukanya nelat-nelat gitu, wkwk. Termasuk dalam urusan postingan baru. Sampai-sampai saya kira, sahabat saya ini entah berapa meter pertambahan panjang ususnya waktu menanti lahirnya tulisan baru saya. Maap ya Dear 😀

Saya lebih suka bicara tentang janji, terutama janji pada diri sendiri, bahwa bagaimanapun insyaAllah saya akan menjaga blog ini tetap hidup. Semalas apapun jari-jari saya menari di atas keyboard, hehe. So here it is, jari saya baru semangat, sambil lirak-lirik komat-kamit semoga mas bos nggak ujug-ujug muncul numpukin berkas kerjaan baru. Aamiin.

Satu topik yang sudah cukup lama berputar-putar di otak saya adalah tentang refleksi Ramadan. Seperti Ramadan di tahun-tahun sebelumnya, saya ini kok selalu punya kejadian ndilalah yang mengiringinya (Mohon maaf, silakan direnungkan saja arti kata berhuruf miring pada kalimat ini :p). Ada masa ketika Ramadan saya rasakan menjadi bulan pengujian atas tekad yang saya canangkan pada bulan sebelumnya. Pernah pula bulan Ramadan terasa menjadi sahabat dekat seusai merasakan cobaan ‘nikmat’ pada bulan sebelumnya. Pun pada tahun ini, sebab suatu hal, Ramadan kembali menjadi terasa sangat spesial meskpun tanpa Indomie telur kornet :p

Dan inilah beberapa refleksi saya sepanjang Ramadan kemarin…

Refleksi Satu.

Seperti biasanya, pada saat Ramadan kuantitas kegiatan membaca Al Qur’an menjadi semakin meningkat. Satu hal yang kemudian terasa mengagumkan adalah ada satu ayat yang—pada setiap kelompok tadarus yang saya ikuti—menjadi jatah bacaan saya…demokrasi-dalam-islam-4-638

Pada kalimat terakhir saya berhenti. Cukup lama. Sampai tanpa sadar mata saya basah, hehe. Mudah ya selama ini bibir saya menggumamkan kata tawakal, tapi apa sejatinya tawakal itu? Sungguhkah saya telah memahaminya apalagi menjalankannya? Perulangan bacaan ayat itu membuat saya seakan disenggol sama Allah. Saya seakan jadi kepengen bilang, Allah ini lho…selalu saja punya hal tepat untuk menyindir, hehe. Perkara tawakal itu juga mendapat semacam bold dan underline di kepala saya begitu, saking pentingnya 🙂

Ramadan ini tentang tawakal.

Refleksi Dua.

Menjelang bulan Ramadan ini pula, HP Nokia 230 bapak yang baru sebulanan dipakai mendadak rusak. Meskipun sudah terbiasa memperlakukan HP dengan hati-hati (tidak mencharge-nya dalam kondisi menyala, menjaganya dari air, membawanya dalam wadah longgar, dan sebagainya), ujug-ujug layarnya tidak mau menyala ketika dihidupkan. Bahkan justru tampak garis-garis aneh di situ. Pikir saya, mumpung masih dalam masa garansi, saya langsung membawanya ke pusat servis Nokia di Ambarrukmo Plasa Jogja. Ternyata di sana saya diberi tahu bahwa untuk HP tersebut, jenis garansinya adalah garansi distributor sehingga saya disarankan menghubungi toko tempat pembelian. Dan di toko tempat pembelian inilah negara api mulai menyerang…

Pada kedatangan pertama saya masih disambut baik, saya jelaskan perlakuan terhadap HP dan kondisi HP yang memburuk tiba-tiba. Pihak toko menjanjikan untuk mengantar HP tersebut ke distributor dengan tambahan bahwa kabar paling cepat mungkin baru akan saya terima sebulan lagi. Saat itu saya masih merasa oke-oke saja karena sudah paham ‘separah’ itulah waktunya jika terpaksa berurusan dengan HP Nokia rusak.

Sebulan berlalu tanpa kabar. Sebulan lebih seminggu, yang mana sudah memasuki bulan Ramadan, saya putuskan untuk langsung bertanya ke pihak toko. Keterkejutan pun dimulai. Menurut mas#1, HP bapak telah dikembalikan oleh pihak distributor kepada toko dan mas#1 telah meminta mas#2 untuk menghubungi saya sejak beberapa hari sebelumnya. Ketika saya menyatakan bahwa tidak ada satupun kontak dari mas#2 kepada saya, dengan santainya si mas#2 mengeles bahwa saya tidak bisa dihubungi. Well, call me an attitude- freak, dude… Saya sungguh sebal dengan si mas#2 yang tidak tampak sama sekali rasa tanggung jawabnya atas tugas untuk menghubungi saya selaku konsumen, sementara mas#1 dari tadi berusaha menjelaskan secara santun bahkan berkali-kali minta maaf kepada saya. Akhirnya saya menyabar-nyabarkan diri dan meminta kepastian atas HP tersebut kepada mas#1. Iapun menjawab distributor sudah menyatakan kerusakan produk permanen sehingga solusinya adalah penggantian unit HP baru oleh pihak toko. Namun mas#1 meminta saya bersabar karena bosnya yang berwenang dengan urusan saya, sementara saat itu bosnya sedang tidak di toko. Saya menyanggupi dengan janji, weekend minggu depan saya akan ke toko lagi.

Seminggu berikutnya, si bos yang ternyata seorang perempuan, tampak berada di toko. Setelah menjelaskan runtutan kasus saya padanya, keterkejutan kedua terjadi, si ibu bilang HP bapak belum selesai diservis. Sekilas di kepala saya sudah melayang kata what the…karena saya sepertinya keseringan baca 9gag, wkwk. Akhirnya saya menahan diri (lagi) dan menyanggupi untuk mengkonfirmasi HP tersebut seminggu lagi. Ternyata seminggu kemudian kejadiannya masih sama, hanya mulai semakin konyol karena si ibu justru mengambil HP bapak dari salah satu lemari toko (katanya belum selesai diservis, duh…) lalu mengkonfrontasi saya kenapa rusaknya begitu parah (fyi, saat saya bawa ke toko layarnya off serta bergaris dan itu pula yang tertulis di surat klaim garansi, namun saat dibuka si ibu layarnya sudah pecah sedikit). Saya sampai kehilangan kata-kata pada awalnya, antara lelah dan marah, namun sekuat tenaga menahan diri untuk tidak meledak marah. Duh Gusti, sulitnya…

Dramanya masih cukup panjang kalau saya ceritakan mendetail. Cukup panjang dan cukup menguras emosi. Akhirnya saya mengalah, saya anggap ini juga keteledoran saya yang kurang memahami persoalan garansi beserta prosedur klaimnya. Si ibu kemudian membeli kembali HP rusak tersebut seharga 400 ribu, sedangkan dua bulanan sebelumnya saya membeli HP itu seharga 735 ribu. *heavy breathing

Pada awalnya saya masih merasa kesal bukan main. Pada sikap si ibu, pada keteledoran saya, pada ketidakmampuan saya untuk balik mengkonfrontasi si ibu atas pernyataan mencla-menclenya, pada kekurangtelitian saya atas suatu prosedur, atas gegabahnya saya dalam merasa emosi…lah ujung-ujungnya banyak balik ke saya ya, haha. Alhamdulillah, dalam posisi shaum Allah justru membuat saya harus menahan kemarahan yang sedemikian kuat. Ada proses yang cukup unik saat itu, dari awalnya saya menahan marah dengan rayuan “Udah ah kan lagi shaum”, lama-lama menjadi “Udah ah ini kalau diterusin manfaatnya justru makin hilang…”. Lalu saya pun ber-azzam tidak mau berurusan dengan toko itu lagi.

*lhah, jebul masih esmosi, wkwkwk*

Dari kisah mengurus klaim garansi di bulan Ramadan tersebut saya jadi merasakan secara langsung, shaum itu sendiri bukan lagi menjadi alasan untuk menahan diri. Shaum lebih menjadi sarana yang disediakan Allah untuk saya belajar menahan diri. Kelihatan kan bedanya. Kalau saya sabar hanya karena shaum, bayangin dong ramenya kalau nanti peristiwa itu terjadi di luar Ramadan, haha. Sementara bersabar, menahan diri, bukankah merupakan bagian dari sikapnya insan bertakwa sebagaimana tujuan dilakukannya puasa?! 🙂

Ramadan ini tentang bersabar secara benar.

Haduh, ternyata sudah panjang sekali, hehe. Saya posting terpisah saja deh kelanjutannya…

Iklan

Satu pemikiran pada “Refleksi: Di Mana Ramadanmu? (1)

  1. Welcome back. Nggregetke ya tokonya Dear. Sek sabarrrr. Hikmahnya nelpon ccu sekarang bisa yang ada gambarnya kan? Walopun hikmah ini ketemunya yo nek udah ga meletup2 atine ya. Hehe.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s