Skala Prioritas dan Tanggung Jawab

wpid-img_20151103_093604_hdr.jpg

Omong-omong, selama ini saya terbiasa membuat tulisan sampai selesai baru kemudian meletakkan judul. Namun di tulisan kali ini saya membalik urutannya, judul dulu baru mulai menuliskan isinya. Dan membaca ulang judul saya kali ini, rasanya sudah ngeper duluan, berat euy topiknya 😀

Skala prioritas dan tanggung jawab, kata-kata ini terlintas pada suatu sore…Ketika Budhe saya tahu bahwa beberapa hari seminggu saya memberikan les privat, beliau kemudian berkomentar. Merujuk kepada salah satu Paklek yang merupakan seorang guru SD dan juga guru les privat, budhe sambil senyum-senyum menganjurkan agar saya seperti Paklek tersebut; mengajar privat hingga malam hari, bahkan weekendnya juga mengajar privat sejak pagi hingga malam hari (pagi hingga malam, di akhir pekan, yes I mean it!). Ngendikonya budhe, enak nduk nanti hasilnya besar, hehe. Saya nyengir kala itu, lalu menjawab bahwa saya enggan karena capek dan nantinya masih banyak urusan rumah yang harus bantu dikerjakan 🙂

Hingga beberapa saat ternyata percakapan itu masih cukup membekas. Posisi unik saya yang bekerja sekaligus masih tinggal bersama orang tua terkadang memang menimbulkan ‘komplikasi’ yang menarik. Ditambah lagi, meskipun sesama perempuan, ibu saya sendiri bukan seorang perempuan yang bekerja di luar rumah. Ibu saya murni seorang ibu rumah tangga. Saya merasakan betul, hal itu seringkali membuat kami memiliki sudut pandang yang berbeda. Bagi ibuk, tercecernya satu saja urusan rumah adalah hal yang nyaris tabu (haha, agak lebay mungkin, tapi begitulah…). seterikaan yang agak menumpuk, lantai yang belum tersapu, cucian piring yang terkumpul beberapa buah; bagi ibuk, hal itu sudah melambangkan rumah yang kurang terurus. LOL. Apakah hal itu menganggu saya? Sejujurnya tidak 😛 Yang seringkali membuat saya capek bukan in dealing with her principle, namun lebih ke berdamai dengan diri saya sendiri ketika belum mampu bersikap seperti ibuk dalam mengurus rumah. Kenapa? Karena saya bekerja di luar rumah. Iya, itu saja alasannya.

Standar yang dibangun ibuk pasti sedikit banyak memengaruhi standar pribadi saya juga, itu di satu sisi. Sedangkan di sisi lain, saya juga paham ada tanggung jawab lain di luar rumah yang juga menuntut fokus dan waktu. So?

Belakangan saya justru merumuskan kembali semuanya atas nama tanggung jawab dan skala prioritas. Tanggung jawab itu lahir dari standar ibuk atas seorang perempuan yang ada di sebuah rumah. Sebagai perempuan dari sebuah rumah, adalah tanggung jawab utamanya untuk menjaga lancarnya segala urusan domestik —at any cost, haha—yang mana tentunya sesuai kesepakatan dengan anggota rumah lainnya. Sedangkan skala prioritas lahir dari pemahaman saya bahwa saya juga punya tanggung jawab lainnya, yaitu di kantor. Ada tugas-tugas nondomestik yang harus saya kerjakan. Ada tanggung jawab lain yang harus saya tuntaskan, di samping segala urusan rumah. Dan hal-hal itu rawan sekali macet ketika saya tidak bisa menyusun skala prioritas. Ibuk dengan segala prinsipnya menjaga saya tetap menancap pada kadar keperempuanan saya, sementara pekerjaan saya memberi saya ruang untuk lebih jauh mengembangkan diri; sehingga mau tidak mau, kesadaran akan tanggung jawab dan skala prioritas harus selalu saya pegang kuat.

Pun kelak ketika nanti saya punya tambahan tanggung jawab dalam bentuk rumah tangga, sebagai istri dan insyaAllah sebagai ibu — lepas dari apakah nanti saya akan menjadi ibu rumah tangga murni atau ibu yang juga berkarir sendiri — maka pemahaman tentang tanggung jawab dan skala prioritas tetap menjadi hal yang mutlak. Ada hal-hal yang pastinya akan menjadi tanggung jawab saya, yang melekat bersama peranan yang sedang saya jalankan; namun demikian ada juga tanggung jawab saya terhadap diri saya sendiri. Kedua hal itu tidak akan berjalan seimbang tanpa acuan skala prioritas.

Lalu hubungannya dengan urusan nambah ngelesi bagaimana? Yah kalau waktu saya tersita untuk memberikan les, bagaimana dengan tanggung jawab saya di rumah?! Memberikan les tetap saja bukan pekerjaan pokok sehingga tidak selayaknya waktu les menyita waktu untuk tanggung jawab pokok saya, katakanlah waktu menyapu atau menyeterika atau memasak di dapur. Lihat kan, begitulah skala prioritas ala saya.

Sesederhana itu 🙂

Iklan

2 pemikiran pada “Skala Prioritas dan Tanggung Jawab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s