Simeulue, Wajah Sumatera Pertama Saya

Sebelum saya diprotes, saya akui dulu bahwa ini bukan posting yang up to date, hehe. Namun demikian, karena blog ini adalah sedikit rekam jejak saya maka sedikit terlambat masih okelah. Toh sekarang baru lewat sebulan-an… sebulan?!

*iyaaa saya procastinator, belum sembuh, haha*

and beware of the long post :p

Bulan September 2015, salah satu bulan favorit di tahun ini. Di awal bulan, untuk pertama kalinya saya bepergian dengan formasi keluarga lengkap termasuk kakak ipar dan keponakan, menuju ujung pulau Jawa. Perjalanan dengan kereta besi yang perkara pesan tiketnya sudah membuat saya cukup senewen. Satu juta tujuh ratus ribu, tujuh orang, dan beberapa kali booking; siapa yang tidak senewen coba?! 😀

Kembali ke rutinitas, sepertiga September dimulai. Diawali dengan miladnya seseorang diiringi pindah rumahnya salah satu buku kesayangan. Pertengahan bulan, beberapa langkah memasuki kantor sudah disambut mas Kadiv sambil cengengesan. Dinas luar ya mbaknya, ke Simeulue *muka datar* Simeulue di mana mas? Yuk mari kita cari bersama di GoogleMaps, hahaha. Oiya, Simeulue ini dibaca si-me-lu, ok?!

Dan inilah dia pulau Simeulue, bagian jauh dari provinsi Aceh.

Letak pulau Simeulue
Letak pulau Simeulue

Ahad pagi, 13 September 2015, perjalanan dimulai dari Adi Sucipto (Jogja) – Hang Nadim (Batam) – Kualanamu (Medan) – Lasikin (Simeulue). See?! Rekor bukan perjalanan ini, hehe. Di atas pulau Simeulue ini saya sempat kehilangan kata-kata, indah sekali birunya laut yang sesekali berpadu dengan hijau pepohonan pulau-pulau. Bahkan saya sanggup mengabaikan pesawat yang terbang cukup rendah dan berputar-putar karena angin yang kurang bersahabat. Tahu-tahu waktu landing kepala saya agak berat dan perut mules, hahaha. Alhamdulillah, sekitar jam 17.00 WIB, saya dan rombongan rekan mendarat dengan selamat. Begitu masuk ke bangunan bandara dan menyalakan telepon seluler, olala…sinyal Indosatnya ketinggalan di Medan, haha. Jadilah selama di sini saya harus rujuk dengan Telkomsel, lumayan… :p

Simeulue dari udara
Simeulue dari udara

Kedatangan kami kala itu sehubungan dengan Hari Pendidikan Daerah Provinsi Aceh yang diperingati setiap tanggal 8 September. Tahun ini, puncak peringatan berupa Pameran dan Sarasehan Pendidikan digelar di pulau Simeulue. Rombongan kami bertugas membuka stan pameran pengenalan produk perusahaan sekaligus mempresentasikan produk tersebut pada sarasehan yang berlangsung pada hari Senin malam, tanggal 14 September 2015.

Let these pics told about themself ya, hehe

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Sesuai latar belakang keilmuan saya dan juga tugas pokok saya selama di Simelue –psst, tugas sampingannya nampang, hihihi—maka persoalan pendidikan menjadi catatan utama saya selama di sana. Stan kami yang merupakan stan Alat Peraga Pembelajaran (APP) dan Alat Permainan Edukatif (APE), selalu ramai dikunjungi anak-anak dan orang dewasa. Beberapa kali saya mengamati, soal-soal matematika sederhana saja masih agak sulit dikerjakan oleh anak-anak tersebut. Hal lainnya, mereka tampak begitu gembira mengoperasikan alat-alat yang ada. Bahkan alat yang ditujukan untuk anak TK sekalipun, ternyata masih begitu menarik minat anak-anak SD maupun SMP. Beberapa kali saya juga sempat mengobrol dengan orang tua siswa maupun dengan guru-guru yang mengunjungi stan. Dari beliau-beliau tersebut saya mendengar langsung ‘keluhan’ akan keterbatasan alat peraga maupun alat permainan edukatif di sekolah mereka. Di satu sisi, positifnya adalah para guru terdorong untuk aktif menciptakan alat peraganya sendiri sesuai bahan yang ada, namun negatifnya hal itu juga menunjukkan pemerataan distribusi alat peraga yang sesuai kebutuhan itu belum sepenuhnya terjadi. Para guru juga mengakui bahwa mengajar di daerah yang jauh dari pusat kota seperti Simeulue ini memerlukan kesabaran tersendiri, baik bersabar atas keterbatasan sarana prasarana maupun bersabar dengan kualitas sumber daya manusia yang ada.

Saya juga beberapa kali bercakap dengan anak-anak tersebut mengenai pernahkah mereka pergi ke luar pulau ini. Sebagian besar anak menjawab belum, beberapa anak menjawab mereka pernah ke pulau Sumatera, namun semua anak yang saya tanya tidak satupun yang menjawab pernah berkunjung ke Jawa, hehe. Tiba-tiba terlintas pikiran dramatis saya bahwa anak-anak ini akan tumbuh besar tanpa pernah melihat pulau lainnya. Menikah, beranak-pinak, dan tetap tinggal di pulau ini hingga akhir usia. Ah semoga saja tidak demikian. Semoga ke depannya transportasi dari dan ke pulau ini semakin baik dan lancar. Aamiin…

Selain perkara-perkara serius di atas, hehe, beberapa hal menarik juga saya jumpai di sana. Ini dia di antaranya:

  • Makanan pokok selama di sana Nasi Padang ala Simeulue
Ini menu sarapan se-ti-ap ha-ri, haha
Ini menu sarapan se-ti-ap ha-ri, haha
  • Bakso rasa rempah 😀
Bakso mana lagi yang pakai kembang pekak? Ayo ngacung!!
Bakso mana lagi yang pakai kembang pekak? Ayo ngacung!!
  • Kaos antik, huahaha
Yang ini saya benar-benar terbahak ketika melihatnya
Yang ini saya benar-benar terbahak ketika melihatnya…

Segala catatan di atas alhamdulillah semakin membuka mata saya atas banyak hal. Ada kehidupan dengan keterjangkauan lokasi yang jauh berbeda dengan kehidupan saya biasanya. Ada kehidupan dengan perbedaan ketersediaan sarana hidup dengan kehidupan saya biasanya. Ada pula logat bahasa, nada bicara, istilah-istilah kata yang begitu berbeda dengan kehidupan saya biasanya. Ada kekayaan dalam keberagaman yang diciptakan Allah, yang mana memang indah jika sesuai kehendak-Nya yaitu menjadikan kita saling kenal-mengenal sebagai langkah awal saling memahami. Plus membenarkan ucapan seseorang yang saya kutip dari koran Kompas, pada suatu ketika.

Traveling mengajarkan saya lebih bijaksana dan melihat bahwa dunia ternyata tidak hanya seperti dunia saya.

~Edward Suhadi, fotografer dan filmmaker~

 Kamis siang, 17 September 2015 saya memulai perjalanan pulang. Kali ini dengan rute Lasikin (Simeulue) – Kualanamu (Medan) – Soekarno Hatta (Jakarta). Transit semalam di hotel seputaran bandara, lalu Jum’at, 18 September 2015 jam 6.00 terbang lagi menuju kota Jogja tercinta.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 Tepat pukul tujuh pagi, pesawat landing dengan mulus. Selangkah kaki menapak landasan Adi Sucipto saya menghirup napas dalam-dalam lalu dengan dramatis berkata kepada rekan saya, “Mbak, hawane Jogja ki pancen bedo yo…”

Well, nothing feels like home. And whatever, Jogja will always be (one of) my home 🙂

NB: Mohon maaf, ada kesalahan teknis sehingga tanggal postingan ini menjadi 19 September 2015, padahal saya menerbitkannya tanggal 23 Oktober 2015, hehehe

Iklan

3 pemikiran pada “Simeulue, Wajah Sumatera Pertama Saya

  1. Pantesan di aku ga muncul ternyata tanggalnya error.
    Kalau kamu penunda bagaimana dengan catatan jalanku yang tahun kapan ditulis kapan? Uououo. Iya ya, ga ada yang ngalahin rumah.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s