Al Hikam dan Rumah Barunya

Ketika kakak saya masuk SMA, alhamdulillah ia diterima di suatu sekolah berasrama yang juga memberikan uang saku. Dari uang saku itu, mamas—begitulah saya memanggilnya, hehe—akan membelikan saya barang-barang sederhana yang sedang saya inginkan (kok baru ngeh ya kalau dari dulu mamas itu benar-benar generous, wkwk). Suatu kali saya dipinjami teman sebuah novel remaja/teenlit menarik berjudul Princess Diaries. Sangat tertarik dengan isinya, saya lalu minta dibelikan buku tersebut kepada mamas.

Sejak saat itu saya mengembangkan sebuah kebiasaan aneh. Saya akan membeli sebuah buku hanya setelah saya membaca (sebagian atau seluruhnya, namun seringnya adalah yang kedua :D) buku itu terlebih dahulu. Mungkin dengan pinjam, menyewa, atau sekedar curi-curi membaca di toko buku, hehe. Kebiasaan itu berlangsung bertahun-tahun, hingga sebagian besar koleksi buku saya ya terkumpul dengan ritme seperti itu. Baca-suka-beli.

Hingga suatu kali saya melihat buku ini di toko buku.

:)
🙂

Saya hanya pernah mendengar tentang kitab ini sesekali. Saya sama sekali belum pernah mengaji apalagi mengkajinya. Saya bahkan tidak punya gambaran apakah bahasa penyampaian buku terjemahan ini akan menarik atau justru ‘membosankan’. Tapi tangan saya serasa bergerak sendiri mengambilnya dari rak, lalu membayarnya di kasir. Lalu pulanglah buku ini bersama saya.

Untuk menambah efek dramatis, haha, buku ini menganggur cukup lama di rak. Bahkan mungkin baru tersentuh beberapa halaman dalam setahunan pertama. Klise sih, iya saya langsung bosan saat mengkajinya. Lalu Allah mengujikan masa di mana saya begitu merindukan hikmah untuk menentramkan hati. Dan tiba-tiba saya tergerak untuk kembali mengambil buku itu…

Hanya sedikit berselang dari halaman terakhir yang saya baca, alhamdulillah ada berbagai penentraman yang terhadirkan.

Kesungguhanmu mengejar apa yang sudah dijamin untukmu dan kelalaianmu melaksanakan apa yang dituntut darimu adalah bukti dari rabunnya mata batinmu.

Nah kan, bagaimana bisa saya tidak malu sendiri ketika membacanya 🙂

Lalu masih berderet kembali berbagai petuah bijak lainnya;

Tertundanya pemberian setelah engkau mengulang-ulang permintaan janganlah membuatmu berpatah harapan. Allah menjamin pengabulan doa sesuai dengan apa yang Dia pilih buatmu, bukan menurut apa yang engkau pilih sendiri, dan pada saat yang Ia kehendaki, bukan pada waktu yang engkau ingini.

…dan ada pula yang ini:

Takutlah bahwa kebaikan Allah selalu engkau peroleh pada saat engkau tetap berbuat maksiat kepada-Nya, itu lambat laun akan menghancurkanmu.

…kemudian si combo yang lezat sekali 😛

Bisa jadi Allah memberimu maka menolakmu, dan bisa jadi Ia menolakmu maka memberimu.

Ketika Allah membukakan pintu pengertian bagimu tentang penolakan-Nya, maka penolakan itu berubah menjadi pemberian.

Pada kelanjutannya harus saya akui, lewat buku itulah saya menjadi banyak belajar. Tentang kerendahan hati, tentang keikhlasan, tentang menjaga khusnudzan kepada Allah dalam segala kondisi, dan utamanya tentang semeleh dalam menapaki jalan kehidupan. Satu kata yang demikian saya tegaskan kepada seseorang.

Seseorang yang sama, yang hari ini tengah mengulang tahunnya yang ke sekian-sekian 😛 dalam keadaan yang -insyaAllah- sehat serta bahagia. Hari ini juga saya harap ia akan bersedia menjadi rumah baru bagi buku saya ini. Saya mengerti bahwa ketentraman hati adalah salah satu poin utama dalam hidupnya, sehingga moga-moga saja buku ini dapat membantunya melanggengkan perasaan tersebut.

Dan baginya pula, semoga berkah Allah senantiasa melingkupi sisa usianya. kini, nanti, dan selamanya.

Aamiin yaa rabbal ‘alamiin…

Enjoy it 🙂

Iklan

4 pemikiran pada “Al Hikam dan Rumah Barunya

  1. Punyaku malah entah kemana sekarang bukunya, hehe. Tapi akhirnya nemu kajiannya di youtube. Kajian al Hikam oleh Kyai Yazid Bustomi. Bahasanya mudah dimengerti. Dulu sering diputar rekamannya di Radio Suara Pasar. Recomended untuk didownload kalau belum punya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s