Inside Out: Merajut Kepingan Rasa

Saya bukan seorang moviegoers memang, namun ketika menjumpai ulasan film yang menuai pujian maka saya akan semangat sekali ke bioskop, hehe. Terutama kalau filmnya animasi tapi punya muatan moral yang bisa diresapi. Anu…itu combo soalnya. Di satu sisi menonton film animasi pada umumnya akan ‘menjebak’ saya sekian jam seruangan dengan banyak anak kecil, unik, haha. Dan di sisi lain, muatan moralnya biasa membuat saya berpikir serta merenungkan sesuatu, kembali pada tahap usia sesungguhnya 😀

Kali ini saya tertarik dengan film terbarunya Disney dan Pixar, Inside Out. Sudah cukup lama saya membaca ulasan seorang blogger senior yang tinggal di Amerika mengenai film tersebut. Tidak tanggung-tanggung, ia menyematkan nilai 9,5 dalam skala 10 untuk film itu. Ulasannya boleh dibaca di sini, dan ulasan menarik lainnya di sini. Ketika akhirnya rilis di Indonesia, dengan suka cita saya langsung mengecek jadwal bioskop untuk kemudian tertunduk lesu setelah melihat jam-jam penayangannya. Kalau tidak bentrok dengan jadwal kerja ya bentrok dengan jadwal salat, lalu ketika dua jadwal itu beres, giliran bentroknya sama harga tiket, haha. Nasib pengirit :p

Well, alhamdulillah kemarin petang saya mantapkan hati untuk menonton; dan kesampaian! 🙂

Semua bekal hari itu; tiket, kartu member, dan diri saya sendiri, wkwk
Semua bekal hari itu; tiket, kartu member, dan diri saya sendiri, wkwk

Berhubung pasti sudah banyak yang menuliskan resensi film tersebut, sekarang saya hanya hendak menuliskan hal-hal yang saya anggap menarik deh, hehe.

  • Saya suka ketika muncul penggambaran Pulau Kepribadian. Pulau ini maksudnya adalah hal-hal pokok yang membentuk kepribadian seseorang. Bagi Riley si tokoh utama, Pulaunya adalah keluarga, teman, olahraga hoki, kejujuran, dan Pulau Fun. Artinya jiwa Riley terbangun dari hal-hal tersebut. Keluarga dan teman sebagai lingkungan terdekat, kejujuran sebagai sifat utamanya, lalu ada olahraga hoki yang ia cintai, dan segala rupa tindakan konyol/fun yang menjadi kebiasaannya.

Hmm kalau saya apa saja ya…. *mulai merapal dalam hati*

  • Sewaktu kecil, digambarkan bahwa emosi dominan Riley adalah Joy. Emosi-emosi lain sebatas pelengkap saja. Menjelang remaja dan menghadapi gejolak perpindahan rumahnya, peran emosi lain menjadi semakin nampak. Sadness dan Anger bergantian mewarnai harinya, diseling tentunya oleh Fear dan Disgust. Realis sekali kan ya. Adalah selayaknya ketika masa kecil terisi dengan berbagai macam kegembiraan, sebab hal yang sangat simpel pun bisa memancing rentetan gelak tawa bagi anak-anak bukan?! Jadi, kegembiraan bagi anak kecil adalah hak; yang di sisi lain menjadi kewajiban bagi orang dewasa untuk mewujudkannya 🙂
  • Akhirnya muncul momen mengharukan saat Joy mengusap air matanya dari bola memori kegembiraan. Tiba-tiba Joy menyadari sisi lain dari peristiwa pada bola tersebut. Sebelum memperlihatkan kejadian gembira, ternyata momen itu diawali oleh kesedihan! Kemudian Joy menyadari bahwa Sadness pun memiliki peranan penting dalam membentuk keutuhan emosi Riley, bukan hanya Joy saja.
  • Momen haru lain hadir ketika Riley hendak kabur dari rumah namun berkat kerja sama keseluruhan emosi di kepalanya, Riley memutuskan turun dari bus dan pulang. Pada adegan itu diperlihatkan gejolak emosinya yang dimulai dari ketakutan berada di lingkungan baru, yang melahirkan kesedihan mendalam, dan akhirnya dia sikapi dengan kemarahan lalu kabur dari rumah. Namun pada satu titik Sadness memunculkan perannya, yaitu saat Riley menangis di hadapan kedua orang tuanya dan mengakui bahwa selama ini dia merasa sangat sedih dengan keadaan baru yang tidak kunjung membaik. Ia takut untuk berkata jujur sebab selama ini kedua orang tuanya menganggap ia adalah anak yang ceria.

                 Sounds familiar?! 😀

Jadi memang adalah benar, langkah awal kemerdekaan diri adalah    mengakui ketidakberdayaan. Sekian.

  • Kisah sisipan lain adalah tentang dunia khayalan beserta teman khayalan Riley. Bing bong namanya. Pada suatu adegan, Bing bong mengorbankan diri agar Joy dapat melanjutkan usahanya mengembalikan kestabilan emosi Riley. Saya yakin saat itu banyak penonton yang tercekat menahan haru *termasuk saya, hehe*. Maknanya bahwa kedewasaan seseorang normalnya akan terus bertumbuh. Bing bong yang mewakili dunia kekanakan seorang Riley pada akhirnya akan menghilang juga. Akan tetapi sesungguhnya Bing bong tidak menghilang lenyap. Ia sekedar berubah menjadi sebuah kekuatan lain yang akan membantu Riley mendewasa. Keren 🙂
  • Pada akhirnya kisah ditutup dengan kerja sama keseluruhan emosi yang digambarkan –salah satunya- terjadi saat Riley bermain hoki. Pada saat itu riuh sekali kelima emosinya meneriakkan arahan sesuai karakter mereka. Dan dengan kerja sama emosi itu, Riley dapat kembali bermain hoki dengan baik.

Kesimpulan saya setelah menonton film ini adalah: brilian. Sebuah ide brilian untuk menggambarkan konsep emosi yang tidak sederhana, bahkan bagi orang tua sekalipun. Tampak bahwa pada awal usia, kegembiraan akan memiliki porsi dominan dalam kehidupan. Namun hal tersebut justru tidak melahirkan keseimbangan mental. Adanya hanya satu emosi dominan akan mengakibatkan kerentanan saat menghadapi perubahan kondisi. Mental kita akan utuh dan kuat jika setiap emosi berperan sesuai porsinya.

Kegembiraan sudah seyogyanya menjadi warna utama kita. Namun sungguh adalah tidak mengapa untuk mengaku sedih. Adalah benar-benar saja untuk merasakan amarah. Tidak mengapa ketika sedang merasa takut. Bahkan rasa jijik pun tetaplah benar jika berada dalam kadar yang tepat. Anak-anak perlu didorong untuk mengakui emosinya dengan jujur sebab kejujuran emosi itu adalah syarat mutlak agar selanjutnya emosi dapat dikelola dengan baik. Sementara itu, bagi orang-orang tua seperti saya –haha…- film ini menegaskan lagi sebuah quote menarik yang pernah saya jumpai:

“Your body can stand almost anything. It’s your mind that you have to convince”

Kita dibekali dengan beragam emosi justru agar kita kuat menghadapi apapun. Emosi kita adalah kunci utama ketika beradaptasi pada berbagai macam kondisi. Dan saya bersyukur, film ini mengingatkan saya kembali atas hal itu. Alhamdulillah 🙂

Iklan

2 pemikiran pada “Inside Out: Merajut Kepingan Rasa

  1. Jadi kata-kaat udah gede jangan nangis atau anak lelaki ga boleh nangis itu sebaiknya ga diucapin ya? Kalau memang moment nya dia sedih boleh kan.
    Bagus sekali reviewmu ini. Suka.

    Btw kayanya di sinu ada bukaan baru bioskop itu, ntar aku tengok deh sapatau ada promo. Hahaha.

    Suka

    1. Betul…laki-laki juga boleh nangis kok. Yang gak boleh itu jadi cengeng, baik buat laki-laki maupun perempuan. Daannnn nangis sama cengeng jelas gak sama lah 😀

      Ada temennya mamas yang pengen tak contek caranya ngajarin ngelola emosi ke anaknya. Kalau anaknya sedih atau sakit hati lalu nangis, malahan gak segera ditolongin dear. Ntar kalo nangisnya udah reda baru si anak diajakin ngobrol kenapa tadi nangis dan sebaiknya gimana kalo kali lain merasakan hal yang bikin dia nangis itu lagi.
      Aku suka caranya, hehe

      Sip dah, promo memang layak diperjuangkan 😀

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s