Cinta Tidak Pernah Keliru; Isn’t It?!

cinta ala saya :p
cinta ala saya :p

Setelah mengalami pergulatan batin sekian lama; serta merasakan pengalaman pribadi yang mengharu biru *halah, wkwk* akhirnya saya membulatkan tekad untuk menuliskan tema ini. Paling tidak sebagai referensi pribadi dan secuil warisan untuk anak cucu kelak *halah halahh…*

Tinjauan ini diawali dari pengalaman saya pada suatu waktu. Saat itu ada seseorang *iya deh, seorang laki-laki tepatnya :D* yang berkata kepada saya agar tidak mempercayai perasaan sebab perasaan itu bisa menipu. Dalam hal ini perasaan yang dia maksud tidak lain dan tidak bukan adalah soal cinta-cintaan itu. Waktu itu ia menganalogikan pendapatnya dengan cara begini:

Dia      : “Misalnya waktu ada tukang bakso lewat, terus kita jadi merasa kepengen bakso…”

Saya    : *menyimak*

Dia      : “Tapi apa kita sedang benar-benar pengen bakso? Apa nggak justru kita kepengen bakso karena dengar tukang baksonya lewat?!”

Saya    : *mulai lapar, maklum saya memang suka bakso, haha*

Dia      : “Makanya itu dek, jangan suka percaya sama perasaan. Perasaan itu bisa menipu!”

Saya    : *Glek, berarti saya sering tertipu sama abang bakso :’(*

Di ujung usaha persuasif itu saya tetap tidak memberikan komentar spesifik selain tetap pada pendirian saya atas apa yang disampaikan mas itu sebelumnya (sebelum dialog menuju ke persoalan bakso, haha). Dalam hati saya malah jadi bingung. Apa iya sih cinta bisa menipu?!

Bertahun-tahun berlalu sejak percakapan itu, meski masing-masing dari kami sudah melanjutkan hidup, pernyataan mas itu masih sering mengusik pikiran. Apalagi ditambah jargon berbagai tayangan maupun tulisan sok romantis yang selalu mendengungkan bahwa Cinta Tidak Pernah Salah dalam berbagai versinya sendiri. Karena bingung, cara termudah adalah saya kembali berefleksi pada pengalaman pribadi saja. Bagaimana sejauh ini yang pernah saya alami?

Well, ternyata kesimpulan saya berbeda dengan pernyataan masnya itu. Sekarang saya percaya, cinta memang tidak pernah keliru.

Oke, silakan tertawa dulu. Boleh kok 😀

Dalam berbagai tulisan sering saya jumpai pemaparan bahwa cinta itu berasal dari Tuhan, dan dalam ajaran agama saya pun setiap hal yang berasal dari Tuhan selalu saya genggam kebenarannya. Lalu mengapa cinta harus mendapat pengecualian?

Apakah karena sering terjadi cinta yang bertepuk sebelah tangan?

Apakah karena cinta namun nyatanya tidak sampai pelaminan?

Apakah karena beralasan cinta seringkali orang menginjak-injak tatanan yang ada?

Atau apakah karena cinta di awal mula dan pada kelanjutannya sering terasa berbeda?

#eaa 😀

Bagi saya sekarang, purna sudah. Cinta tidaklah salah. Pada siapapun kita merasakannya, bukan cintanya yang salah. Pun kita juga tidak salah telah merasakannya. Yang nantinya bisa ‘dihakimi’ sebagai benar dan salah adalah tindakan kita berikutnya setelah cinta itu terasa.

Memaksakan pada pihak yang satunya meski nyata-nyata dia tidak merasa sama?

Mewajibkan diri sekali cinta maka dia satu-satunya tiket kita menuju pernikahan?

Menafikan segala macam tatanan yang ada agar cinta kita terlabuhkan?

Atau mungkin;

Menimbang ulang segala rasa itu hingga didapat langkah yang terbijak?! 😉

Tuhan bisa membuat kita jatuh cinta pada siapa saja, sesuai kehendak-Nya. Ada kalanya cinta akan semulus jalan tol hingga nyaris seperti kisah Disney yang happily ever after itu. Ada kalanya pakai babak belur dulu, namun ujungnya bahagia juga. Dan ada pula yang jatuh cintanya sekedar menjadi persinggahan untuk belajar menjadi sosok yang lebih baik. Pun memang benar, sebagaimana sabda Sang Rasul bahwa pernikahan adalah keniscayaan yang terpandang dari dua orang yang saling mencintai, jelas pula bagi saya sekarang hal itu tidak bersifat resiprokal. Ternyata ada pula pernikahan yang tidak berawal mula dengan landasan cinta, namun semacam ‘sekedar’ komitmen kuat untuk berusaha saling mencintai ke depannya.

Apapun, bagaimanapun bolehlah minumnya tetap teh botol Sos*o.

Sekian.

Iklan

2 pemikiran pada “Cinta Tidak Pernah Keliru; Isn’t It?!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s