Pintu Rezeki

index

Seorang sahabat SMA pernah menulis di kolom Friendster saya *Iya Friendster, memang sudah tua saya ini :D* bahwa saya adalah sesosok perempuan baik serta menyenangkan, tenang dan anggun tapiii……..selama saya dijauhkan dari makhluk bernama kucing, haha. Dia bilang, ketika saya sudah berdekatan dengan kucing maka saya akan bertransformasi menjadi perempuan heboh-an dan lebay. Oke, sekarang mengerti kan mengapa ketidakpopuleran Friendster sangat baik untuk saya, hehe. #keepingdarksecret

Meskipun sungguh tidak sedramatis pemaparan sahabat saya, memang saya punya hubungan yang cukup harmonis dengan si Manis berkaki empat itu. Sejauh mengingat, sejak SD saya sudah memiliki seekor kucing di rumah. Kucing itu baru mati saat saya kelas 3 SMA. Sejak saat itu saya tidak pernah tidak memiliki kucing. Bahkan ketika pindah dari Kulon Progo ke Klaten, kucing saya saat itu juga ikut move on moving. Bertahun-tahun kemudian, kucing yang saya bawa dari Kulon Progo beranak-pinak di Klaten. Selain itu masih ada juga beberapa ekor kucing liar yang selalu muncul setiap kali waktu makan kucing tiba. Jika ditotal saat itu, seingat saya ada 6 ekor kucing pada sekali waktu makan padahal kucing saya sendiri (yang benar-benar dipelihara di dalam rumah) cuma 2 ekor, hehehe.

Suatu hari salah satu kucing pendatang yang warnanya hitam legam, si Mbah namanya karena sudah cukup tua :D, tampak menggembung perutnya. Olala, ternyata dia bunting. Saya agak penasaran akan berapa ekor lagi anaknya kali ini. Beberapa minggu berselang, si Mbah datang bersama keluarga besar barunya. Saya hitung ada 5 ekor anak kucing yang kesemuanya nyaris berbulu hitam legam juga seperti induknya. Saya speechless, tidak tahu harus bersyukur bahwa di usianya si induk masih fit untuk melahirkan 5 ekor anak yang tampak sehat atau mesti meringis ngeri membayangkan jumlah kucing yang selanjutnya akan ikut makan di rumah saya. Tolong dibayangkan ya, di dapur saya yang cukup sempit kini harus menampung 11 ekor kucing untuk makan bersama. Whoaa?! 😀 Solusi sementara, keenam anak beranak itu makan di tempat tersendiri yaitu di teras depan kamar saya agar tidak langsung bersinggungan dengan kucing-kucing dewasa lainnya.

Suatu sore saya sedang cukup selo untuk mengamati sibuknya mereka makan. Cukup menakjubkan juga melihat mereka berkerumun, semuanya hitam-hitam, berebutan makan dari satu piring plastik lebar. Terlintas dalam pikiran saya, tentunya ke depan porsi makan mereka akan semakin banyak seiring pertumbuhan fisiknya. Dan alangkah banyaknya juga jatah makan yang harus kami sisihkan untuk kesebelasan kucing itu. Tiba-tiba saya meringis ketika sebentuk kesadaran melintas. Sebuah ibroh, pelajaran, lewat rombongan kucing ini. Allah yang meniupkan ruh sehingga mereka hidup, Allah juga yang akan menjamin kelangsungan hidup mereka sesuai apa yang telah Ia gariskan. Jadi bukan kami yang memberi makan mereka. Kami sekedar sarana; wasilah untuk melewatkan jatah rezeki dari Allah bagi mereka 🙂

Beberapa sore berselang, bapak ikut-ikutan selo untuk memandangi kucing-kucing itu makan dengan lahapnya. Tercetus kemudian kata-kata yang sebelumnya sempat menghantui pikiran saya, “Kucing semono akehe mangane njuk mengko kepiye”; kucing sebanyak itu nanti bagaimana jatah makannya, sambil tertawa sumbang. Syukurlah saat itu saya sudah ‘tercerahkan’, hehe. Segera saya menjawab “Lak yo wis ono rejekine pa’e…”; pasti sudah ada jatah rezekinya pak, dengan mantap. Mata saya tertuju pada keasyikan mereka makan, saling dorong dan berebut dengan saudara-saudaranya. Saya bersyukur mereka datang ke rumah kami, menjadikan kami sarana rezeki bagi kelangsungan hidup mereka, dan terutama memberikan pelajaran berharga bahwa pemenuhan rezeki itu adalah hak prerogatif Sang Mahapencipta. Ah rezeki, ada maupun tak ada engkau seringkali menjadi sumber cerita 😉

Oiya, jika lalu anda bertanya-tanya mengapa Pintu ke Mana Saja-nya Doraemon mejeng jadi main picture di tulisan ini. Yaa sebenarnya disambung-sambungkan saja sih. Sarana rezeki bolehlah jika diibaratkan sebagai pintu. Dan spesifik lagi pintunya si Doraemon, sebab temanya kan baru rezeki si kucing, hehehe. Apa? Dibilang gak nyambung?! Ya monggo-monggo saja. Ini kan tulisan saya :p

happy contemplating!

*gambar dari sini*

Iklan

2 pemikiran pada “Pintu Rezeki

  1. Kyahaha, gak ada aturan komen harus nyambung. Cuma ‘sebaiknya’ :p
    Barusan tak coba gak bisa sih, tapi pernah baca ada yang bilang sekarang Friendster buat ngegame aja. yang mana entah apa pula maksudnya itu 😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s