#RamadanChallengeDay3: Antara Ramadan dan Para Monyet Bijaksana

Eh asli ya, ini judulnya bukan perkara click bait :p Nih buktinya Itu asli foto dari dinding kubikel saya di kantor, hehe. Awalnya hanya sekedar iseng. Sepintas tahu garis besar emoticon-emoticon tersebut, saya tertarik menempelkannya di dinding kubikel saat Ramadan. Mengapa? Kira-kira begini ceritanya… Hasil dari baca-baca via internet, disebutkan bahwa lambang tersebut berasal dari …

Lanjutkan membaca #RamadanChallengeDay3: Antara Ramadan dan Para Monyet Bijaksana

#RamadanChallengeDay2: Nyeterika with Style

Adakah yang pernah 'menyelepekan' cara orang lain melakukan sesuatu karena di mata kita cara itu tidak efisien?! Apa? Enggak? Ya wis, berarti masalah saya aja ini, wkwk. Salah satu temen kantor, mb Maya namanya, suatu kali bercerita bahwa tiap kali menyeterika ia selalu mengkombinasikannya dengan nonton film via laptop. Kalau pakai istilah dalam kurikulum anak …

Lanjutkan membaca #RamadanChallengeDay2: Nyeterika with Style

#RamadhanChallengeDay1: Marhaban ya Syahru Ijabah

Well, well...apa pula ini, lama gak ngeblog bukannya nyapu-nyapu malah langsung main Challenge, hehe. Terserah-serah saya juga kali, blog-blog saya sendiri juga :p Sebelum bercerita lebih banyak, saya ucapkan dahulu Marhaban ya Ramadhan... selamat menjalankan ibadah puasa bagi segenap rekan–rekan muslim di manapun berada. Semoga amal ibadah kita selama bulan ini semakin mendekatkan kita kepada …

Lanjutkan membaca #RamadhanChallengeDay1: Marhaban ya Syahru Ijabah

Menikmati Latar Blasteran

Stasiun Rogojampi, stasiun terdekat dari rumah simbah di kecamatan Muncar. Dokpri. Saya sering bercanda menyebut diri sebagai anak blasteran. Blasteran Jateng-Jatim, hehe. Sejak dulu rasanya keren bisa punya tujuan pulkam sejauh Banyuwangi ini. Dan alhamdulillah rasa keren ini bertambah saja ketika saya beranjak tua. Keren, bahwa saya mewarisi 'kegilaan' kultur dari kedua wilayah tersebut. Kultur …

Lanjutkan membaca Menikmati Latar Blasteran

Pemahaman Terbaik Diawali dari Merasakan

Masih segar dalam ingatan saya ketika ada seorang teman, katakanlah namanya Hasan (lhah… :D); selepas saya memposting tulisan tentang pernikahan beberapa tahun yang lalu, komentar spontannya adalah “Iya po, Nis…” sambil tertawa-tawa tidak jelas. Saat itu sejujurnya saya rada dongkol. Walaupun belum menikah, emangnya gak boleh apa nulis soal nikah?! * Piss ya bapake Adzkia, …

Lanjutkan membaca Pemahaman Terbaik Diawali dari Merasakan

Tujuh di Dua Ribu Tujuh (Belas)

Alhamdulillah, akhirnya mulai nulis lagi di tahun yang baru. Setengahnya saya juga terpancing sama postingan sahabat saya sih, hehe. Mengawali tahun yang berganti dengan keinginan untuk menjadi lebih baik, tidak ada salahnya bukan?! 1. Jar of Happiness Berawal dari selancar ria di Pinterest, saya menemukan gambar menarik. Gambar jar of happines. Kumpulan hal membahagiakan yang …

Lanjutkan membaca Tujuh di Dua Ribu Tujuh (Belas)

Candi Sukuh: Perjalanan Meletakkan Keangkuhan

Sudah cukup lama saya naksir candi ini. Ngaku deh, keantikan reliefnyalah yang menggoda saya, haha. Namun letaknya yang cukup jauh, pun medannya daerah Karanganyar yang terasa asing membuat saya berkali-kali mengurungkan niat tersebut. Hingga akhirnya kegalauan mengisi libur natal membulatkan tekad saya untuk mbolang ke sana. Sendiri alias all by myself. Sebagian diri saya agak …

Lanjutkan membaca Candi Sukuh: Perjalanan Meletakkan Keangkuhan

(lagi) Tentang Jilbab, Sebuah Refleksi Pribadi

Pagi ini saya sungguh selo --haha-- dan membalas sebuah komentar di sini. Berikut tangkapan layarnya: Saya berani berkomentar seperti itu karena sejauh ini melihat website tersebut masih menjadi sarana komunikasi yang baik dengan teman-teman dari beragam agama maupun etnis. Melihat ada yang berkomentar berupa pertanyaan, okelah jawab selagi sempat dan bisa, siapa tahu bisa membantu. Masalahnya, sembari …

Lanjutkan membaca (lagi) Tentang Jilbab, Sebuah Refleksi Pribadi

Balada Uang Lusuh

Belakangan ini saya sedang dipusingkan dengan perkara lembaran uang. Alkisah dari dagang kecil-kecilan saya di kantor, saya sering menerima lembaran uang dalam kondisi yang cukup menyedihkan, hehe. Seperti ini misalnya: Pembaca nan budiman, ada yang bernasib seperti saya?! 😀 Biasanya uang macam ini saya “kembalikan” lagi ke toko dengan cara digunakan untuk kulakan. Namun kemudian …

Lanjutkan membaca Balada Uang Lusuh